<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sangkot's Weblog</title>
	<atom:link href="http://sangkot.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sangkot.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Dec 2011 13:31:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sangkot.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sangkot's Weblog</title>
		<link>http://sangkot.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sangkot.wordpress.com/osd.xml" title="Sangkot&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sangkot.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>LANDASAN NORMATIF PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MULTIKULTURAL</title>
		<link>http://sangkot.wordpress.com/2007/11/09/landasan-normatif-pendidikan-agama-islam-ultikultural/</link>
		<comments>http://sangkot.wordpress.com/2007/11/09/landasan-normatif-pendidikan-agama-islam-ultikultural/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Nov 2007 06:51:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangkot</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangkot.wordpress.com/2007/11/09/landasan-normatif-pendidikan-agama-islam-ultikultural/</guid>
		<description><![CDATA[A.    Pendahuluan Lembaga pendidikan Islam di era sekarang dihadapkan kepada perubahan yang mendasar, terutama mempersiapkan  siswa yang nantinya akan berintegrasi dengan masyarakat yang  berasal dari berbagai macam latar belakang budaya dan agama. Untuk mendapatkan hasil maksimal  dari sebuah proses pendidikan agama, ada  dua hal sebagai “pekerjaan rumah (PR)” lembaga tersebut, terutama pendidik/guru agama Islam, yakni: [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangkot.wordpress.com&amp;blog=1734808&amp;post=17&amp;subd=sangkot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h5><strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"><span>A.<span style="font-family:'Times New Roman';">    </span></span></span></strong><span dir="ltr"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Pendahuluan</span></strong></span></h5>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Lembaga pendidikan Islam di era sekarang dihadapkan kepada perubahan yang mendasar, terutama mempersiapkan<span>  </span>siswa yang nantinya akan berintegrasi dengan masyarakat yang<span>  </span>berasal dari berbagai macam latar belakang budaya dan agama. Untuk mendapatkan hasil maksimal<span>  </span>dari sebuah proses pendidikan agama, ada<span>  </span>dua hal sebagai “pekerjaan rumah (PR)” lembaga tersebut, terutama pendidik/guru agama Islam, yakni: para pendidik<span>  </span>tersebut sudah sa’atnya<span>  </span>butuh pengertian yang mendalam dan harus merasa peka terhadap isu-isu<span>  </span>pemahaman keagamaan yang sedang berkembang dalam masyarakat umum. Baru kemudian,<span>  </span>para pendidik ini harus bisa membantu siswanya untuk jadi sadar akan penting memahami budaya yang bermacam-macam dalam masyarakat, khususnya di bidang keagamaan.<a title="_ftnref1" name="_ftnref1" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">[1]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Jika tidak demikian, tampaknya lembaga pendidikan, khususnya Islam, sulit berpartisipasi dalam menengahi model-model pemahaman Islam radikal yang sering dituduh sebagai penyulut munculnya ketidaknyamanan dalam masyarakat beragama. Lembaga-lembaga pendidikan, terutama di masa akan datang, harus bisa memproduksi sarjana Islam yang berpikiran moderat untuk mewadahi berbagai macam pemahaman yang cenderung radikal itu.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Untuk mengujudkan itu, seluruh unsur sistem pendidikan Islam, khususnya pembelajaran agama Islam, sebaiknya ditelaah kembali. Dalam tulisan ini, hanya satu aspek yang bisa disampaikan, yakni landasan normatif (ayat-ayat al-Qur’an) sebagai inspirasi pendidikan Islam di era multikultural.<span>    </span></span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span></strong></p>
<ol>
<li class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Pendidikan Islam Multikultural</span></strong></li>
</ol>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Pendidikan multikultural merupakan strategi pembelajaran yang menjadikan latarbelakang budaya siswa yang bermacama-macam digunakan sebagai usaha untuk meningkatkan pembelajaran siswa di kelas dan lingkungan sekolah. Yang demikian dirancang untuk menunjang dan memperluas konsep-konsep budaya, perbedaan, kesamaan dan demokrasi<a title="_ftnref2" name="_ftnref2" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">[2]</span></span></span></span></a> Ada pula yang mengatakan pendidikan multikultural<span>  </span>adalah sebuh ide atau konsep, sebuah gerakan pembaharuan pendidikan dan proses. Konsep ini muncul atas dasar bahwa semua siswa, tanpa menghiraukan jenis dan statusnya,<span>  </span>punya kesempatan yang sama untuk belajar di sekolah formal.<a title="_ftnref3" name="_ftnref3" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">[3]</span></span></span></span></a><span>     </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Dua definisi di atas tampaknya lahir pada setting historis khusus, yakni pada lembaga-lembaga pendidikan tertentu di wilayah<span>  </span>Amerika yang pada awalnya diwarnai oleh sistem pendidikan yang mengandung diskriminasi etnis, yang belakangan hari mendapat perhatian serius dari pemerintah.<a title="_ftnref4" name="_ftnref4" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">[4]</span></span></span></span></a> Hal ini berbeda dengan sistem pendidikan (Islam) yang ditemukan di Asia, terutama Indonesia, yang sejak awal<span>    </span>tidak begitu menampakkan diskriminasi radikal di dalam kelas.<span>  </span>Perbedaan ruang kelas antara pria dan wanita pada lembaga-lembaga tertentu pada lembaga pendidikan Islam misalnya,<span>  </span>tidak bisa langsung<span>  </span>diartikan sebagai tindakan diskriminatif, karena yang demikian lebih dimaknai sebagai antisipasi terhadap pelanggaran moral baik dalam pandangan Islam dan kultur masyarakat.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Oleh karena itulah, pendidikan Islam multikultural di sini lebih diartikan sebagai sistem pengajaran yang lebih memusatkan perhatian kepada ide-ide dasar Islam yang membicarakan betapa pentingnya<span>  </span>memahami dan menghormati budaya dan agama orang lain.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Secara konseptual, rumusan pendidikan Islam multikultural belum menunjukkan jati dirinya secara maksimal, khususnya di dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam formal. Bukan hanya <em>pendidikan Islam multikultural </em>yang belum dikembangkan, tetapi juga <em>pendidikan agama multikultural</em> saja belum ditemukan bentuknya seperti apa. Barangkali<span>   </span>pada lembaga-lembaga<span>  </span>tertentu sudah ada, tetapi dalam status<span>  </span>mata pelajaran muatan lokal.</span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">C. Landasan Normatif<span>  </span>Pendidikan Islam Multikultural</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Ada</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> 4 (empat) isu pokok yang dipandang sebagai dasar pendidikan Islam multikultural, khususnya di bidang<span>   </span>keagamaan, yaitu:</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">1) kesatuan dalam aspek ketuhanan dan pesan-Nya (wahyu); </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">2)<span>  </span>kesatuan kenabian;</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">3) tidak ada paksaan dalam beragama; dan</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">4) pengakuan terhadap eksistensi agama lain. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Semua yang demikian disebut normatif karena<span>  </span>sudah merupakan ketetapan Tuhan.<span>  </span>Masing-masing<span>   </span>klasifikasi<span>  </span>didukung oleh<span>  </span>teks (wahyu), kendati satu ayat dapat saja berfungsi untuk justifikasi yang lain. </span></p>
<h3><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Dari aspek<span>  </span>kesatuan<span>  </span>ketuhanan, pendidikan Islam mendasarkan pandangannya dari<span>  </span>al-Qur’an surat an-Nisa&gt;’: 131: “Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan sungguh, Kami telah memerintahkan<span>  </span>kepada orang yang diberi kitab suci sebelum kamu dan juga kepadamu agar<span>  </span>bertakwa kepada Allah”. </span></h3>
<h3><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Surat</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"><span>  </span>A&lt;l ‘Imra&gt;n: 64:</span></h3>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Katakanlah (Muhammad), Wahai Ahlu-l-Kita&gt;b! Marilah kita menuju kepada satu <em>kali&gt;mat</em> (pegangan) yang sama<span>   </span>antara kami dan kamu, bahwa<span>   </span>kita tidak<span>  </span>menyembah selain Allah dan<span>  </span>kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun,<span>  </span>dan bahwa kita tidak<span>   </span>menjadikan satu sama lain<span>   </span>tuhan-tuhan selain<span>  </span>Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.<a title="_ftnref5" name="_ftnref5" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">[5]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Dari aspek kesatuan pesan ketuhanan (wahyu) dapat dilihat dalam surat an-</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Nisa&gt;’: 163: </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya; ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan kami telah memberikan Kitab Zabur kepada Dawud.<a title="_ftnref6" name="_ftnref6" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">[6]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Dari aspek kesatuan kenabian, al-Faruqi mendasarkan pandangannya dari al-Qur’an surat al-Anbiya&gt;’:<span>  </span>73: “Dan Kami<span>  </span>menjadikan mereka itu<span>  </span>sebagai pemimpin-pemimpin<span>  </span>yang memberi pentunjuk dengan perintah Kami, dan Kami wahyukan<span>  </span>kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka<span>  </span>menyembah”. Kemudian surat A&lt;l ‘Imra&gt;n: 84:</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"><span> </span>Katakanlah (Muhammad), Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami<span>  </span>dan yang diturunkan kepada Ibra&gt;hi&gt;m, Isma’Il, Ishaq,Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.<a title="_ftnref7" name="_ftnref7" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">[7]</span></span></span></span></a> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Pandangan Islam yang terkait dengan<span>  </span>kebebasan menganut agama didasarkan kepada al-Qur’an surat al-Baqarah: 256: “Tidak ada paksaan dalam (mengaut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat”.<a title="_ftnref8" name="_ftnref8" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">[8]</span></span></span></span></a> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Terakhir adalah mengenai pengakuan al-Qur’an surat al-Ma&gt;idah: 69 akan eksistensi agama-agama lain: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, S{abii&gt;n, dan orang-orang Nasrani, barang siapa<span>  </span>beriman kepada Allah,<span>  </span>kepada hari kemudian dan berbuat kebajikan, maka tidak ada rasa khawatir padanya dan mereka tidak bersedih hati”. Kemudian surat al-Ma&gt;idah:<span>  </span>82:</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"><span> </span>Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.<span>  </span>Dan pasti kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya<span>  </span>kami adalah orang Nasrani”. Yang demikian itu<span>  </span>karena<span>  </span>di antara mereka<span>  </span>terdapat para pendeta dan para rahib, (juga) karena<span>  </span>mereka tidak menyombongkan diri.<a title="_ftnref9" name="_ftnref9" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">[9]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Semua ayat tersebut dipahami dalam perspektif teologis-normatif, yaitu dengan pengertian, di dalamnya tidak ada keraguan sedikit pun dan bersifat<span>  </span>mutlak. Pemahaman<span>  </span>dari ayat-ayat tersebut tetap diletakkan dalam konteksnya sebagai yang mutlak. Karena bersifat mutlak, maka cara<span>  </span>kerja yang ditempuh seorang guru agama<span>  </span>harus<span>  </span>selalu berusaha mengkaji ulang untuk membuktikan substansi kebenarannya. Dalam mengkaji ulang itu, teknis yang dilakukan sebaiknya<span>  </span>dengan<span>   </span>menjelaskan konsep-konsep hubungan berbagai agama dengan narasi atau logikanya sendiri, kemudian semua disimpulkan dengan mengutip ayat al-Qur’an yang relevan. Jadi model untuk menjelaskan sesuatu, pada dasarnya sudah dibungkus<span>  </span>paradigma teologis lebih awal, sehingga apa yang disampaikan kepada siswa, sesungguhnya merupakan penjelasan logis saja dari wahyu.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"><span> </span>Oleh karena itu, di sini dapat dikatakan bahwa gagasan tentang pengetahuan (kebenaran wahyu) tidak seperti halnya dalam pengetahuan positivistik yang berkeyakinan bahwa gagasan tentang pengetahuan<span>  </span>direduksi menjadi pengetahuan ilmiah, dan gagasan mengenai pengetahuan ilmiah direduksi menjadi intellijensia. Jadi “mengetahui”<span>  </span>harus berarti mengekspresikan relasi-relasi yang bisa diamati (<em>observable</em>) antara fakta yang ada dalam konteks relasi matematis.<a title="_ftnref10" name="_ftnref10" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">[10]</span></span></span></span></a> Jadi, dalam perspektif ini, sudah diyakinkan terlebih dahulu bahwa terdapat sekumpulan kebenaran adikodrati yang statis yang diwahyukan oleh Tuhan kepada manusia, dan proses sejarah dalam pewahyuan, di era ini, tidak begitu penting.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Bila cara seperti ini yang ditempuh, maka<span>  </span>seluruh pengetahuan yang terkait dengan isu-isu hubungan antara agama<span>  </span>menurut pandangan Islam terkesan semua baik. Mungkin ada yang mengatakan bahwa cara ini apologis. Tetapi tidak mengapa, terutama bagi siswa yang baru saja mengalami sistem pembelajaran agama model ini. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Barangkali, relevan dengan apa yang pernah ditulis<span>  </span>al-Faruqi bahwa konseptualisai atas inti kedua agama itu berbeda satu sama lain dan<span>  </span>sesuai dengan sejarahnya.<span>  </span>Oleh sebab itu,<span>  </span>tidak mungkin untuk melakukan identifikasi<span>  </span>antara masing-masing agama tersebut, karena masing-masing lengket dengan sejarahnya. Seseorang dapat melihat Islam dan<span>  </span>Kristen sebagai dua agama yang berbeda, akan tetapi, ada kemungkinan besar untuk keluar dari perbedaan ini, yaitu dengan melihat inti asli (<em>substansi</em>) agama tersebut, memusatkan perhatian secara penuh terhadapnya dan<span>  </span>membangun berbagai argumentasi di atasnya. <a title="_ftnref11" name="_ftnref11" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">[11]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Aspek normatif ini juga dapat dilihat pada<span>  </span>ayat-ayat sebagai dasar umum hubungan antara agama, pada surat A&lt;l ‘Imra&gt;n: 113 yang berisikan pujian atas ahli kitab yang bersifat jujur;<span>  </span>surat at Taubah: 31 yang berisikan kepercayaan orang-orang Yahudi dan Nasrani<span>  </span>yang mengatakan ‘Uzair<span>   </span>dan al-Masi&gt;h} itu putra Allah, bahkan mereka mempertuhan rahib-rahib dan orang alim mereka sendiri, padahal mereka disuruh hanya menyembah Allah; surat<em> </em>al-Hadi&gt;d: 27 yang berisikan bahwa mereka yang mengikuti Kitab Injil, yang diturunkan kepada Nabi ‘Isa,<span>  </span>memiliki hati penuh dengan rasa<span>  </span>santun dan kasih sayang; surat an Nisa<em>&gt;’</em>: 171 yang berisikan pandangan al-Qur’an terhadap Nabi ‘Isa, yang menyebutkan bahwa al-Masi&gt;h}, ‘Isa putra Maryam itu utusan Tuhan, dan larangan untuk mengatakan bahwa Tuhan itu tiga; surat al-‘Ankabu&gt;t: 47 yang berisikan bahwa bagi orang-orang yang diturunkan kepada<span>  </span>mereka kitab Taurat, juga beriman kepada al-Qur’an.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Secara doktrinal, seluruh bentuk hubungan itu tidak pernah berubah, kecuali setelah ia memasuki wilayah historis (konteks) yang cukup panjang.<a title="_ftnref12" name="_ftnref12" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">[12]</span></span></span></span></a> Hubungan yang dimaksud di sini meliputi hubungan yang bernuansa positif dan bernuansa negatif, yaitu dalam pengertian kritik. Proses kritik kelihatan berjalan dengan baik, karena tiga agama,<span>  </span>Yahudi, Kristen dan Islam, merupakan tiga agama yang bersaudara, yang sudah barang tentu bertugas saling mengingatkan. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Dalam paradigma inklusif, kritik adalah sesuatu yang penting dilakukan. Hal ini berbeda dengan paradigma pluralis yang bersifat<span>  </span>lebih “membiarkan”. Oleh sebab itu tidak salah jika seorang guru agama Islam memasukkan ayat-ayat (teks) yang mengkritik keyakinan dan sikap penganut Kristen dan Yahudi<span>  </span>sebagai dasar hubungan agama-agama. Kritik di sini tidak dipahami sebagai sebuah cacian hinaan maupun sebuah vonis, akan tetapi lebih merupakan sebuah peringatan yang menantang untuk melakukan dialog.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Di samping<span>  </span>menjelaskan wahyu melalui pendekatan rasional sebagai bukti otentik hubungan antara agama, unsur normatif pendidikan Islam juga bisa<span>   </span>memusatkan kajiannya terhadap apa yang disebut oleh al-Qur’an sendiri sebagai <em>h}ani&gt;f</em>,<a title="_ftnref13" name="_ftnref13" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">[13]</span></span></span></span></a> yang dipandang sebagai sebuah perkembangan pemikiran dan cenderung filosofis. Terma <em>h}ani&gt;f</em> merupakan terma yang banyak ditemui dalam al-Qur’an, bahkan bisa dijadikannya sebagai “alat perekat” hubungan berbagai agama dalam sejarah. Di sini perlu digambarkan <em>hani&gt;f</em> sebagai orang yang bersandar kepada tradisi Ibrahim, menolak tuhan-tuhan palsu (<em>shirk</em>), menolak tradisi pagan, cinta kepada pengetahuan dan penemu kebenaran. Semua ini merupakan ciri khas kebenaran sebuah agama. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Terma <em>h{ani&gt;f </em>dijadikan alat perekat terhadap berbagai tradisi keagamaan atau sebagai titik temu antara agama-agama Semitik, dan karenanyalah isu-isu besar tentang kesatuan kebenaran dalam agama-agama akan mungkin diwujudkan.<span>  </span>Berbeda memang<span>  </span>dengan pemikiran pluralis yang didasari oleh tradisi perenial yang lebih memusatkan perhatiannya kepada aspek esoteris agama-agama<span>  </span>sebagai<span>  </span>muara bertemunya kebenaran masing-masing.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"><span> </span>Pengakuan Islam terhadap Tuhan agama Yahudi<span>  </span>dan agama Kristen sebagai Tuhannya sendiri, pengakuannya terhadap nabi-nabi mereka sebagai nabinya sendiri, komitmennya dengan ajakan Ila&gt;hi terhadap ahli kitab<span>  </span>untuk bekerjasama dan hidup bersama di bawah genggaman Allah, merupakan satu-satunya langkah yang pertama dan nyata menuju persatuan dari dua agama dunia yang besar.<span>  </span>Karen Armstrong mengatakan: “dikatakan h{ani&gt;f sebagai tradisi Ibrahim berarti menyingkirkan semua pandangan khusus tentang Tuhan dan berpegang teguh pada sebuah<span>  </span>keimanan yang “murni dan tidak bercampur dengan konsep apa pun”.<a title="_ftnref14" name="_ftnref14" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">[14]</span></span></span></span></a> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Bersamaan dengan h{ani&gt;f, paham monoteisme<span>  </span>dan etika agama<span>  </span>pra Islam Arab, Yahudi, Nasrani dan Islam<span>   </span>membentuk sebuah kesadaran agama yang esensi dan pusatnya satu. Kesatuan agama-agama ini, dengan mudah, dapat<span>  </span>ditemukan para sejarawan dalam kebudayaan Timur Dekat Purba. Yang demikian masih berbekas dalam literatur-literatur kuno, dan kesamaan tradisi tersebut<span>  </span>didukung oleh kesatuan geografi, bahasa (Semit) dan kesatuan ekspresi artistik mereka.<a title="_ftnref15" name="_ftnref15" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">[15]</span></span></span></span></a> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Kesatuan kesadaran agama<span>  </span>Timur Dekat ini terdiri dari 5 (lima) prinsip utama yang sekaligus mencirikan<span>  </span>tradisi penduduknya. Lima prinsip tersebut diringkaskan sebagai berikut:</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">…<em>First</em>: The reality of God’s existence, the distinct pisition of Creator from His creatures, unlike the atributes of Ancient Egypt and Ancient Greece on one side, and Hinduism and Taoism on the other.. <em>Second</em>: The purpose of man’s creation is neither God’s Self-contemplation nor man’s enjoyment, but unconditional service of God on eart, His own ‘mannor”. <em>Third</em>: The relevance of Creator to creature, or the Will of God is the content of revelation and it is expressed in terms of law, of ought an moral imperatives.. <em>Fourth</em>: Man, the servant, is master of the ‘mannor” under God, capable of transforming it through his own efficacious action into what God desire it to be. <em>Fiveth</em>:<span>  </span>Man’s obedience to and fulfillment of the Divine commands result in happiness and felicity, opposite of which is suffering.<a title="_ftnref16" name="_ftnref16" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">[16]</span></span></span></span></a> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Prinsip-prinsip ini membedakan antara orang-orang Arab dari lainnya di seluruh dunia. Semua ini merupakan dasar tempat bersatunya agama Yahudi, Nasrani dan Islam, sekaligus membuat mereka menjadi<span>  </span>sebuah gerakan dalam sejarah kemanusiaan kendati mereka berbeda. Kesatuan kesadaran keagamaan dan kultur semitik tersebut bukan pengaruh tradisi Mesir<span>  </span>Kuno (1465-1165 BC), tidak juga oleh orang-orang Philistin, bangsa Hitti, Kassit dan orang Aria, yang juga sebenarnya telah mengalami semitisasi dan asimilasi (<em>semitized and assimilated</em>) lewat penaklukan para militer mereka.<a title="_ftnref17" name="_ftnref17" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">[17]</span></span></span></span></a> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Dalam teori progresif agama-agama tersebut, apakah dapat dikatakan satu agama yang belakangan<span>  </span>adalah pinjaman dari yang sebelumnya? Al-Faruqi, seorang tokoh Islam, pernah<span>  </span>mengkritik Barat yang sering mengatakan Islam telah banyak meminjam dari tradisi Yahudi dan Kristen. Dia mengatakan ko-eksisten dan penyamaan berbagai tradisi agama, tidak dipandang sebagai saling meminjam. Dia menekankan bahwa adalah suatu yang naif dan memalukan untuk menggunakan istilah “pinjaman meminjam” di antara dua gerakan besar, yang di dalamnya juga ditemukan kelanjutan dan perbaikan terhadap pendahulunya.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Yang aneh lagi, menurut al-Faruqi, kebanyakan sarjana Barat justru tidak pernah mengatakan bahwa Kristen sebagai pinjaman dari Yahudi, Buddha pinjaman dari Hindu dan Protestan pinjaman dari Katolik. Demikian Islam menyebutnya identik dengan Yahudi dan Kristen, tetapi tetap direformasi dari penyimpangan-penyimpangan yang pernah terjadi.<a title="_ftnref18" name="_ftnref18" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">[18]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Berdasarkan bacaan terhadap ayat-ayat al-Qur’an, agama-agama lain bisa dilompokkan ke dalam tiga bagian, yakni:<span>  </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"><span>1.<span style="font-family:'Times New Roman';">      </span></span></span><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Agama Yahudi dan Nasrani (Kristen)</span></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"><span>2.<span style="font-family:'Times New Roman';">      </span></span></span><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Seluruh bentuk agama/kepercayaan<span>  </span>masyarakat<span>  </span>yang dipandang sebagai sebuah ekspresi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dan</span></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"><span>3.<span style="font-family:'Times New Roman';">      </span></span></span><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"><span> </span>Manusia secara umum (<em>Humans Überhaupt</em>). </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Hubungan Islam dengan agama-agama lain tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"><span> </span>Islam memberikan status istimewa kepada agama Yahudi dan Nasrani. Hal ini karena secara tekstual al-Qur’an menyebut kedua agama tersebut<span>  </span>agama Tuhan. Para pendiri agama ini adalah Ibrahim, Musa, Daud dan ‘Isa sebagai nabi-nabi Tuhan dan Kitab-Kitab yang mereka bawa seperti, Taurat, Injil, dan Zabur juga merupakan wahyu Tuhan. Untuk alasan ini, ia mengutip ayat-ayat al-Qur’an sebagai berikut:</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Surat</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> al-‘Ankabu&gt;t ayat 46: “Tuhan kami dan Tuhan kamu adalah satu dan kami hanya kepadaNya berserah diri”. Surat asy-Syu&gt;ra&gt; ayat 15 yang menyatakan: </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan<span>  </span>Allah<span>  </span>dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami perbuatan kami dan bagi kamu perbuatan kamu. Tidak perlu ada pertengkaran<span>  </span>antara kami<span>  </span>dan kamu Allah mengumpulkan<span>  </span>antara kita<span>  </span>dan kepadaNya-lah kita kembali.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Surat</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> al-Baqarah, ayat 140: “Ataukah kamu (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah: “Kamukah yang lebih tahu atau Allah?” </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Surat</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> A&gt;l ‘Imra&gt;n ayat 84: </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Katakanlah Muhammad: Kami berimana kepada Allah dan kepada<span>  </span>apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di atara mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Surat</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> an Nisa&gt;’ ayat 163:</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"><span> </span>Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana<span>  </span>kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan kami telah mewahyukan pula kepada<span>  </span>Ibrahim, Isma’il,<span>  </span>Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan kami berikan Zabur kepada Dawud. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Surat</span><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">A&lt;l ‘Imra&gt;n ayat 2 dan 3: Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha hidup, Yang terus menerus mengurus makhluk-Nya. Dia menurunkan al-Kita&gt;b (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) yang mengandung kebenaran, membenarkan kitab-kitab<span>  </span>sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.<span>  </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Surat</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> al-Ma&gt;idah ayat 69: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Sha&gt;bii&gt;n dan orang-orang Nasrani&gt;, barang siapa beriman kepada Allah, kepada hari kemudian dan berbuat kebajikan, maka tidak ada rasa khawatir padanya dan<span>  </span>mereka<span>  </span>tidak<span>  </span>bersedih hati.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Jadi, secara teologis, penghormatan Islam terhadap agama Yahudi dan Nasrani, pendiri dan kitab sucinya bukanlah sebuah penghormatan biasa, akan tetapi atas dasar kebenaran agama-agama tersebut, bahwa semua juga dari Tuhan yang sama. Islam memandang agama-agama tersebut tidak hanya sebagai pandangan lain yang<span>  </span>harus dihadapi dengan toleran, akan tetapi sebagai agama yang sah<em><span>  </span></em>atas kebenaran dari Tuhan. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Dengan demikian, statusnya yang sah tidaklah dalam pengertian sosial politik, budaya atau peradaban, akan tetapi keagamaan. Oleh karena itu,<span>  </span>Islam dipandang begitu unik, karena tidak<span>  </span>ditemukan agama lain di atas dunia ini yang percaya kepada kebenaran agama lain sebagai syarat utama pada kebenaran kepercayaan agamanya dan kesaksiannya.<a title="_ftnref19" name="_ftnref19" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">[19]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Secara konsisten,<span>  </span>Islam melanjutkan dan mengakui kebenaran agama Yahudi dan Nasrani dan mengidentifikasikan diri dengannya. Di sini ditemukan sebuah hubungan teologis dan ideologis yang erat antara Islam, Kristen dan Yahudi, yaitu tiga<span>  </span>agama ini mengakui Tuhan yang satu. Pengakuan bersama ketiga agama tersebut atas<span>  </span>Tuhan yang satu<span>  </span>membawa konsekuensi bahwa wahyu dan agama-agama ini pada hakikatnya satu. Islam tidak memandang dirinya lahir dari kondisi keagamaan yang kosong (<em>ex nihilo</em>), tetapi sebagai penegasan kembali atas kebenaran yang pernah datang lewat para nabi sebelumnya. Mereka semua dipandang Muslim, dan wahyu mereka<span>  </span>satu dan serupa dengan wahyu Islam.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Dalam menerjemahkan Hadis Nabi Muhammad saw. tentang kelahiran manusia yang fit}rah, <span> </span>ia menulis: “All men are born Muslims (in the sense of being endowed with <em>religio naturalis</em>). It is their parents (tradition, history, culture, nurture as opposed to nature) that turn them into Christians and Jews. On this level of nature, Islam holds the believer and non-believer as equal partakers of the religion of God.”<a title="_ftnref20" name="_ftnref20" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">[20]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Appresiasi Islam terhadap<span>  </span>agama lain, seperti yang terlihat dalam perspektif teologis di atas, dapat memberikan sumbangan yang besar terhadap hubungan antara penganut agama-agama dalam perspektif Islam. Yang demikian dapat disimpulkan sebagai berikut: </span><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Pertama</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">, pernyataan<span>  </span>tersebut memberikan dasar yang baik bagi sebuah ekumene dunia<span>  </span>di bidang keagamaan, yang di dalamnya agama-agama saling menghormati klaim masing-masing,<span>  </span>tanpa membantah klaim mereka sendiri. </span><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Kedua</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">, pandangan ini akan memberikan<span>  </span>suatu dasar yang sah<span>  </span>untuk mencari kesatuan agama-agama yang diperuntukkan bagi umat manusia. Jika dialog agama yang diinginkan bukan hanya sekedar basa-basi atau saling tukar informasi, maka<span>  </span>dialog itu harus mempunyai<span>  </span>sebuah norma keagamaan yang dapat mendamaikan<span>  </span>berbagai perbedaan di antara agama-agama. Penganut sebuah agama yang terlibat dalam sebuah dialog agama harus memiliki norma tersebut dan selalu memposisikan diri di atasnya. Islam menemukan norma ini di dalam agama <em>fit}rah</em>. Dengan norma ini<span>  </span>pihak-pihak yang mengikuti dialog<span>  </span>merasa merdeka untuk menghadapi tradisi-tradisi agama<span>  </span>historis lainnya. Jadi, tidak ada ide yang lebih merangsang kemerdekaan<span>  </span>ini daripada ajaran Islam, bahwa suatu tradisi agama adalah sebuah perluasan manusiawi dari agama <em>fit}rah </em>yang primal itu. </span><em><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Ketiga</span></em><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">, pandangan ini sangat erat hubungannya dengan agama lain, terutama Yahudi dan Kristen yang tidak dianggapnya sebagai “agama-agama lain” akan tetapi sebagai dirinya sendiri.<span>   </span>Pengakuannya terhadap Tuhan agama Yahudi dan Kristen<span>   </span>sebagai Tuhannya sendiri, pengakuannya terhadap nabi-nabi mereka sebagai nabinya sendiri,<span>  </span>dan komitmennya terhadap ajakan Ila&gt;hi terhadap ahli-ahli kitab untuk bekerjasama dan hidup bersama di bawah sabda Alla&gt;h merupakan satu-satunya langkah<span>  </span>yang nyata menuju persatuan<span>  </span>dari<span>  </span>tiga agama<span>  </span>besar dunia tersebut.<span>  </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Disamping dua agama Yahudi dan Nasrani, secara normatif Islam juga sudah membina hubungan dengan tradisi.<strong><span>  </span></strong>Cara yang ditempuh<span>   </span>untuk mendekatkan pengikut<span>  </span>agama-agama lain kepada Islam mungkin berbeda dengan cara yang ditempuh terhadap agama Yahudi dan Nasrani. Ini bisa saja terjadi, terutama seorang guru kesulitan dalam melacak cerita wahyu (sejarah sakral) tentang hubungan Islam dengan penganut agama selain Yahudi dan Nasrani tersebut. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Ada cara praktis yang bisa ditempuh, seperti halnya yang dilakukan al-Faruqi,<span>  </span>yaitu dengan mengajukan konsep yang ia sebut ‘fenomena kerasulan’, kendatipun sebenarnya, secara tekstual, al-Qur’an menyebut golongan-golongan lain seperti: orang-orang S}a&gt;bii&gt;n, orang Maju&gt;si, ‘A&lt;d dan Thamu&gt;d.<a title="_ftnref21" name="_ftnref21" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">[21]</span></span></span></span></a> <span> </span>Hal ini dilakukannya, paling tidak, atas dasar bahwa di samping golongan-golongan tersebut tidak dikelompokkan kepada Agama-Agama Ibrahim, juga data atas golongon tersebut relatif sulit ditemukan.<span>  </span>Menurut al-Faruqi, fenomena kerasulan itu universal, ia berlangsung<span>  </span>melewati semua ruang dan waktu.<span>   </span>Al-Qur’an surat al-Isra&gt;’ ayat 15 menyebutkan: </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Barang siapa<span>  </span>berbuat sesuai dengan petunjuk Allah, maka sesungguhnya<span>   </span>itu untuk keselamatan dirinya sendiri, dan barang siapa tersesat maka sesungguhnya<span>  </span>kerugian itu bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Jadi fenomena kerasulan itu sebenarnya merupakan konsep yang mengandung pengertian bahwa pada setiap umat, Tuhan mengutus seorang nabi untuk membimbing mereka. Sebagian para nabi itu diketahui dan sebagian yang lain tidak.<a title="_ftnref22" name="_ftnref22" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftn22"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">[22]</span></span></span></span></a> Penyampaian dan penyebaran perintah Tuhan<span>  </span>yang demikian<span>  </span>disebut sebagai fenomena kerasulan. Sarana pemersatu umat beragama di sini tidak dilihat dari geneologi agama-agama dan pernyataan Tuhan secara tekstual, akan tetapi dilihat dari pesan semua nabi itu sama. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Menurut al-Faruqi, universalitas dan absolusitas yang egaliterian ditemukan dalam konsep tersebut. Fenomena kerasulan itu bukan hanya dipandang universal, tetapi isi dari masing-masing<span>  </span>juga harus dipandang sama secara mutlak. Islam mengajarkan bahwa ajaran para nabi yang ditemukan pada<span>  </span>setiap waktu dan tempat pada dasarnya adalah satu. Tuhan tidak pernah membeda-bedakan utusan-Nya, sebab, jika hukum-hukum Tuhan yang disampaikan kepada umat itu berbeda pada setiap tempat, maka fenomena kerasulan itu akan kurang efektif.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Dari pandangan tersebut, secara doktrinal-teologis, dapat dipahami bahwa Islam memiliki akar yang kuat untuk melihat adanya hubungan yang erat antara setiap umat manusia yang mengaku dirinya beragama,<span>   </span>yang menurutnya juga atas dasar kebenaran wahyu. Mereka juga disebut<span>  </span>muslim dan harus dihormati sebagai manusia yang memiliki kebenaran, kewajiban, tanggung jawab, sistem peribadatan yang semuanya ditujukan kepada Tuhan. Karena kebenaran hubungan ini bersumber dari informasi wahyu, tidak ada sarana<span>  </span>lain yang memperteguhnya kecuali iman sebagai sebuah sikap yang tidak<span>  </span>menuntut pembuktian.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Di samping membina hubungan dengan kelompok umat yang disebut beragama, Islam juga dasar normatif tersebut dapat dilihat dari Hubungan Islam dengan Umat Manusia (<em>all Humans<strong> Überhaupt</strong></em>) <span>           </span></span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Dalam pandangan berikutnya, Islam<span>   </span>menetapkan adanya hubungan dengan manusia secara umum, sekalipun mereka ini disebut sebagai umat tidak bertuhan (<em>areligionists</em> dan <em>atheists</em>), yakni atas dasar adanya tanggung jawab untuk mengembalikan mereka sebagai anggota integral masyarakat, manusia universal. Di atas akar inilah ditemukan<span>  </span><em>raison d’etre </em>penciptaan<em> </em>manusia. Dinyatakan dalam surat al-Baqarah ayat 30:</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan<span>  </span>khali&gt;fah di bumi”. Mereka berkata: “Apakah<span>  </span>Engkau hendak menjadikan<span>  </span>orang yang merusak<span>  </span>dan menumpahkan darah di sana, sedangkan<span>  </span>kami bertasbih<span>  </span>memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman: ”Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"> </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Oleh karena manusia dalam al-Qur’an dipandang sebagai khalifah, maka secara adikodrati dan teologis, seorang Muslim wajib melaksanakan<span>  </span>tugasnya<span>  </span>untuk memperbaiki alam, termasuk menjaga dan melestarikan hubungannya dengan manusia lain. Menjaga hubungan di sini tidak berdasarkan tuntutan sosial, akan tetapi atas dasar perintah<span>  </span>Tuhan. Jadi, dalam perspektif ini, menjaga keselarasan hidup umat manusia, membantu dan menjaga hak orang lain dipahami dalam kerangka teologis. Doktrin<span>  </span>tentang kesatuan eksistensial yang timbul dari keesaan Tuhan,<span>    </span>membiarkan sesuatu pada posisinya masing-masing, tetapi melihatnya sebagai satu kesatuan. Keseluruhan masyarakat<span>  </span>manusia merupakan<span>  </span>bagian dari keharmonisan global. Dalam gambaran<span>  </span>tersebut di atas, umat tersebut merupakan satu kesatuan.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Jadi dengan pandangan tersebut, era teologis normatif ternyata dapat<span>  </span>melahirkan kesadaran akan adanya keteraturan.<span>  </span>Keteraturan sosial adalah keteraturan masyarakat dalam mendapatkan hak dan kewajiban yang sama, sehingga dapat menjamin kehidupannya<span>  </span>sebagai manusia.<span>  </span>Ide ketuhanan bukan tidak bisa menjadi justifikasi untuk faham-faham modern, seperti: humanisme, demokrasi, kesamaan dan kebebasan. </span></p>
<h6><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';"><span>D.<span style="font-family:'Times New Roman';">    </span></span></span><span dir="ltr"><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Penutup</span></span></h6>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Di bagian akhir ini disampaikan bahwa pendidikan Islam multikultural bukan hanya secara konseptual memberikan kesamaan hak atas peserta didik dalam kelas untuk mendapatkan kesempatan di bidang apa saja, tetapi juga yang penting adalah menjelaskan kepada siswa bagaimana Islam membina hubungan yang baik dengan penganut tradisi di luar Islam yang pernah dibawa Nabi Muhammad beberapa abad yang silam. Pendidikan Islam multikultural seyogianya menjadikan dasar-dasar normatif ini sebagai landasan untuk merumuskan bagaimana semestinya proses pendidikan dalam Islam dikelola sehingga ia tidak asing dari masyarakat yang secara hukum alam bpunya budaya sendiri-sendiri. Salah satu pekerjaan rumah (PR) yang mendesak dikerjakan adalah<span>  </span>mengkaji ulang mata-mata pelajaran seperti<span>  </span>kurikulum sejarah kebudayaan Islam (SKI), atau yang terkait dengan proses pembelajaran mata pelajaran tersebut di kelas. Sering ditemukan dalam pembelajaran SKI ini ialah bahwa sejarah Islam itu selalu saja<span>  </span>dimulai dari priode Nabi Muhammad, tanpa melihat pada genetika maupun sejarah para nabi (Musa, Isa) yang membawa agama besar lainnya, seperti Yahudi dan Nasrani. </span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">DAFTAR PUSTAKA</span></strong><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">H.A.R., Tilaar Multicultural Education and Its Challenges in Indonesia”, makalah pada <em>International Seminar on Multicultural Education, Cross Cultural<span>  </span>Understandding for Democracy and Justice</em>, Yogyakarta 26-26 Agustus 2005.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Donna M. Gollnick dan Philip C. Chinn, <em>Multicultural Education in a Pluralistic Society</em>, edisi ke-5, New Jersey, Columbus: Merill an imprint of Prentice Hall,<span>  </span>1998.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Jack Levy “Multicultural Education and Democracy in the United State”, makalah pada International Seminar on Multicultural Education<em> Cross Cultural<span>  </span>Understandding for Democracy and Justice</em>, Yogyakarta 26-26 Agustus 2005.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Endang Turmudi, “Pendidikan Multikultural di Indonesaia dan Tantangannya”<span>  </span>makalah yang dipresentasikan pada <em>International Seminar on Multicultural Education Cross Cultural<span>  </span>Understandding for Democracy and Justice</em>, Yogyakarta 26-26 Agustus 2005.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Isma’il Raji al-Faruqi, “The Role of Islam in Global Inter-Religious Defendence”<em><span>  </span></em>dalam Ataullah Siddiqui.<em> Islam and Other Faiths, </em>Horndon USA: The International<span>  </span>Institute<span>  </span>of Islam Thought, 1998 </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Isma’il, <em>The Cultural Atlas of Islam</em>, New York: Macmillan, 1986.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Isma’il Raji al-Faruqi, “On The Nature of Islamic Da’wah” dalam <em>International Review of Mission</em>, Vol. LXV, No. 260, October, 1976.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Étienne Gilson, <em>Tuhan di Mata para Filosuf</em>, (terj) Silvester<span>  </span>Goridus Sukur, Bandung: Mizan, 2004.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Al-Faruqi, Islam and Christianty: Diatribe or Dialogue”<span>  </span>dalam <em>Jurnal of Ecumenical Studies</em>, volume 5, No. 1, Winter, 1968. </span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Karen Armstrong, A History of God: The 4000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam. New York: Ballantine Books, 1993.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">al-Faruqi yang tertuang dalam <em><span> </span>Historical Atlas of The Religions of The World</em>, New York: The MacMillan Co., 1974.</span><span style="font-size:11pt;font-family:'Book Antiqua';">Akbar S. Ahmed,<span>  </span><em>Living Islam,<span>  </span>From Samarkand<span>  </span>to Stornoway,<span style="font-style:normal;">New York</span><span style="font-style:normal;">: Fact on File Inc., 1994. </span></em></span></p>
<hr size="1" />
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;line-height:12pt;text-align:justify;margin:6pt 0 0;"><a title="_ftn1" name="_ftn1" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">Diskusi tentang peran guru sebagai yang terpenting dari seluruh sistem pendidikan dapat dibaca dalam H.A.R., “Tilaar Multicultural Education and Its Challenges in Indonesia”, makalah pada <em>International Seminar on Multicultural Education, Cross Cultural<span>  </span>Understandding for Democracy and Justice</em>, Yogyakarta 26-26 Agustus 2005 hal. 8.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;margin:0;"><a title="_ftn2" name="_ftn2" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">Donna M. Gollnick dan Philip C. Chinn, <em>Multicultural Education in a Pluralistic Society</em>, edisi ke-5, (New Jersey, Columbus: Merill an imprint of Prentice Hall,<span>  </span>1998), hal. 3.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><a title="_ftn3" name="_ftn3" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">Jack Levy “Multicultural Education and Democracy in the United State”, makalah pada International Seminar on Multicultural Education<em> Cross Cultural<span>  </span>Understandding for Democracy and Justice</em>, Yogyakarta 26-26 Agustus 2005 hal. 8.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><a title="_ftn4" name="_ftn4" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">Endang Turmudi, “Pendidikan Multikultural di Indonesaia dan Tantangannya”<span>  </span>makalah yang dipresentasikan pada <em>International Seminar on Multicultural Education Cross Cultural<span>  </span>Understandding for Democracy and Justice</em>, Yogyakarta 26-26 Agustus 2005 hal. 1.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;line-height:11pt;text-align:justify;margin:0;"><a title="_ftn5" name="_ftn5" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">Isma’il Raji al-Faruqi, “The Role of Islam in Global Inter-Religious Defendence”<em><span>  </span></em>dalam Ataullah Siddiqui.<em> Islam and Other Faiths </em>(Horndon USA: The International<span>  </span>Institute<span>  </span>of Islam Thought, 1998), hal. 74. Juga Al-Faruqi, <em>The Cultural Atlas of Islam</em> (New York: Macmillan, 1986),<span>  </span>hal. 190.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;line-height:12pt;margin:0;"><a title="_ftn6" name="_ftn6" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Ibid</em>., hal. 77.</span></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;line-height:12pt;margin:0;"><a title="_ftn7" name="_ftn7" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[7]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Ibid</em>., hal. 74.</span></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;line-height:12pt;text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><a title="_ftn8" name="_ftn8" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[8]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">Isma’il Raji al-Faruqi, “On The Nature of Islamic Da’wah” dalam <em>International Review of Mission</em>, Vol. LXV, No. 260, October, 1976,<span>  </span>hal. 305.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;line-height:12pt;margin:0;"><a title="_ftn9" name="_ftn9" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[9]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">Al-Faruqi, “The Role of Islam”, hal. 76.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><a title="_ftn10" name="_ftn10" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[10]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">Étienne Gilson, <em>Tuhan di Mata para Filosuf</em>, (terj) Silvester<span>  </span>Goridus Sukur (Bandung: Mizan, 2004), hal. 168. Dalam buku ini ditulis mengenai pendekatan Immanual Kant dan Auguste Comte tentang pengetahuan.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:12pt 0 0;"><a title="_ftn11" name="_ftn11" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[11]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">Al-Faruqi, Islam and Christianty: Diatribe or Dialogue”<span>  </span>dalam <em>Jurnal of Ecumenical Studies</em>, volume 5, No. 1, Winter, 1968,<span>  </span>hal. 45. </span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;line-height:12pt;margin:0 0 12pt;"><a title="_ftn12" name="_ftn12" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[12]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Ibid</em>., 49.</span></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;line-height:12pt;text-align:justify;margin:12pt 0 0;"><a title="_ftn13" name="_ftn13" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[13]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">Terma <em><span style="font-family:'Times New Arabic';">h{ani{f&lt;</span></em> identik dengan “agama tanpa nama” seandainya hal ini diartikan secara harfiyah dengan terma <em>Anonymous Christians</em> (Kristen tanpa nama) yang<span>  </span>dicetuskan oleh Karl Rahner pada tahun 1965.<span>    </span>Ide dasar dari<span>  </span>dua konsep tersebut kelihatan sama, kendati al-Faruqi mengatakan berbeda. Menurutnya, <em><span style="font-family:'Times New Arabic';">hanif</span></em><span style="font-family:'Times New Arabic';"> </span>adalah kategorisasi yang dibuat al-Qur’an, sedang <em>Kristen tanpa nama</em> adalah hasil sebuah intelektualisasi manusia (teologi modern) </span></p>
<p class="MsoEndnoteText" style="text-indent:36pt;line-height:12pt;text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><a title="_ftn14" name="_ftn14" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[14]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">Karen Armstrong, A History of God: The 4000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam. New York: Ballantine Books, 1993, hal. 165.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;margin:0;"><a title="_ftn15" name="_ftn15" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[15]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">Analisis mendalam tentang kesadaran agama Timur Dekat Kuno ini dapat dilihat dalam </span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="margin:0;"><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">karya al-Faruqi yang tertuang dalam <em><span> </span>Historical Atlas of The Religions of The World</em> (New York: The MacMillan Co., 1974).</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;line-height:12pt;margin:0;"><a title="_ftn16" name="_ftn16" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[16]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">Lihat al-Faruqi, <em>Historical Atlas </em>dalam pembahasan “The Ancient Near East”,<span>  </span>hal. 1-34. </span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><a title="_ftn17" name="_ftn17" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[17]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Ibid</em>., hal. 76.</span></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;line-height:12pt;margin:0 0 12pt;"><a title="_ftn18" name="_ftn18" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[18]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Ibid.</em>, hal. xx.</span></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><a title="_ftn19" name="_ftn19" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[19]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;"><em>Ibid.,</em> hal. 75.</span></span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;line-height:12pt;margin:0;"><a title="_ftn20" name="_ftn20" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[20]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">Al-Faruqi, “Islam and Christianity”,<span>  </span>hal. 94.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;margin:0;"><a title="_ftn21" name="_ftn21" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[21]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;font-family:Times New Roman;">Al-Qur’an, surat al-Hajj, ayat 17 dan 42.</span></p>
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:36pt;line-height:12pt;text-align:justify;margin:0;"><a title="_ftn22" name="_ftn22" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/blank.htm#_ftnref22"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[22]</span></span></span></span></a><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Ada pendapat yang menyebutkan bahwa jumlah para Nabi itu di atas 124.000 orang, termasuk orang-orang besar seperti Plato dan Buddha,<span>  </span>kendati yang<span>  </span>demikian masih dalam perdebatan. Baca Akbar S. Ahmed,<span>  </span><em>Living Islam,<span>  </span>From Samarkand<span>  </span>to Stornoway (</em>New York: Fact on File Inc., 1994), hal. 32. </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sangkot.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sangkot.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sangkot.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sangkot.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sangkot.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sangkot.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sangkot.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sangkot.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sangkot.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sangkot.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sangkot.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sangkot.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sangkot.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sangkot.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sangkot.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sangkot.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangkot.wordpress.com&amp;blog=1734808&amp;post=17&amp;subd=sangkot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangkot.wordpress.com/2007/11/09/landasan-normatif-pendidikan-agama-islam-ultikultural/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1afb08087b8de1abf9227a701157085a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sangkot</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ILMU KALAM (Sebuah Kritik Epistemologi)</title>
		<link>http://sangkot.wordpress.com/2007/11/08/ilmu-kalam-sebuah-kritik-epistemologi/</link>
		<comments>http://sangkot.wordpress.com/2007/11/08/ilmu-kalam-sebuah-kritik-epistemologi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Nov 2007 07:56:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangkot</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangkot.wordpress.com/2007/11/08/ilmu-kalam-sebuah-kritik-epistemologi/</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan  Epistemologi merupakan bagian dari khazanah filsafat (Barat). Istilah tersebut didefenisikan antara lain, sebagai the branch of philosophy which investigate the origin, structure, methode and validity of knowledge.[1] Cikal bakal epistemologi sebetulnya telah diletakkan oleh Plato[2] namun sebagai cabang filsafat, epistemologi mulai berkembang pesat setelah gema rasionalism dihembuskan oleh Descartes,[3] yakni pada abad ke- 17 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangkot.wordpress.com&amp;blog=1734808&amp;post=14&amp;subd=sangkot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h5><font size="3" face="Times New Roman">Pendahuluan</font></h5>
<p><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"> </font></span></strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Epistemologi merupakan bagian dari khazanah filsafat (Barat). Istilah tersebut didefenisikan antara lain, sebagai <em>the branch of philosophy which investigate the origin, structure, methode and validity of knowledge</em>.</font><a name="_ftnref1" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1" title="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> Cikal bakal epistemologi sebetulnya telah diletakkan oleh Plato</font><a name="_ftnref2" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2" title="_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> namun sebagai cabang filsafat, epistemologi mulai berkembang pesat setelah gema rasionalism dihembuskan oleh Descartes,</font><a name="_ftnref3" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3" title="_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> yakni pada abad ke- 17 dan 18 pada sa’at tradisi pemikiran Islam, termasuk ilmu kalam, tak lagi mengalami perkembangan yang berarti. </font></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>      </span>Secara garis besar, ada dua aliran pokok dalam epistemologi. <em>Pertama</em>, adalah<span>  </span>idealisme atau lebih populer dengan sebutan rasionalism, yaitu suatu aliran pemikiran yang menekankan pentingnya peran “akal”, “ide”, “category”, “form” sebagai sumber ilmu pengetahuan. Di sini peran pancaindera dinomorduakan. Sedangkan aliran <em>kedua</em> adalah, realism atau yang lebih populer dengan sebutan empirism yang lebih menekankan peran indera (sentuhan, penglihatan, penciuman, pencicipan dan pendengaran) sebagai sumber sekaligus<span>  </span>sebagai alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Di sini peran akal dinomorduakan.</font><a name="_ftnref4" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4" title="_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> Dalam perkembangannya, kajian epistemologi dalam literatur Barat dapat membuka perspektif<span>  </span>baru dalam kajian ilmu pengetahuan yang multi-dimensional, sedangkan kecenderungan epistemologi dalam pemikiran Islam, termasuk ilmu kalam, beringsut lebih tajam ke wilayah idealism dan rasionalism dengan tidak peduli terhadap masukan-masukan yang diberikan oleh empirisme.</font><a name="_ftnref5" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5" title="_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>      </span>Dominannya aspek rasionalism dalam ilmu kalam akhirnya menjadikan pemikiran ini jatuh ke wilayah pemikiran metafisika yang lebih bersifat spekulatif dan melampaui batas-batas kemampuan dan daya serap pikiran manusia biasa. Memang demikian realitas pemikiran kalam klasik itu, ia penuh kesamaran. Kondisi ilmu kalam yang demikian sebenarnya bukan hanya disebabkan karena objek kajiannya yang<span>  </span>lebih metafisik, tapi juga disebabkan faktor bahasa yang sulit untuk menjelaskan objek tersebut.<span>  </span>Sebagai sebuah pernyataan tentang Tuhan, sudah barang tentu ia tidak bisa diverifikasi atau difalsifikasi secara objektif dan empirik, jadi di dalam memahami kitab suci seseorang cenderung menggunakan standard ganda, yaitu seseorang berpikir<span>  </span>dalam kapasitas dan berdasarkan pengalaman kemanusiaan yang diarahkan kepada suatu objek yang diimani dan berada di luar jangkauan nalar<span>  </span>dan inderanya. Dengan ungkapan lain, ia berpikir dalam kerangka iman dan ia beriman<span>  </span>sambil mencoba mencari<span>  </span>dukungan dari pemikirannya. Di sini sesungguhnya terdapat wilayah yang remang-remang karena dalam sikap beriman terdapat hal-hal yang diyakini kebenarannya, namun tidak diketahui dan tidak terjangkau oleh nalar.<span>  </span>Wilayah inilah yang kemudian melahirkan ilmu kalam.</font><a name="_ftnref6" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn6" title="_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>      </span>Adanya jarak historis dan perbedaan tradisi menyebabkan upaya melakukan pemetaan terhadap epistemologi ilmu kalam menjadi cukup problematis. Apalagi dalam tradisi pemikiran Islam, literatur yang secara khusus membahas persoalan epistemologi secara utuh dan dapat dijadikan sebagai rujukan pembimbing ke arah diskusi<span>  </span>epistemologi ilmu, boleh dikatakan masih kurang. Sebagai catatan pengantar perbincangan epistemologi dalam bahasan ini<span>  </span>disederhanakan<span>  </span>menjadi perbincangan tentang sumber, metode dan keabsahan suatu kebenaran ilmu kalam dengan merujuk kepada fakta historis yang ada pada aliran-aliran kalam.</font></span><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"> </font></span></strong></p>
<p><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"></span></strong><font face="Times New Roman"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><span>1.<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Sumber Kebenaran.</span></strong></font></p>
<p style="text-indent:18pt;margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><font face="Times New Roman">Semua aliran dalam pemikiran kalam berpegang<span>  </span>kepada wahyu sebagai sumber pokok. Dalam hal ini, perbedaan yang muncul hanyalah<span>  </span>bersifat interpretasi mengenai teks ayat-ayat Alqur’an maupun Hadis. Perbedaan dalam interpretasi, seperti yang dikatakan itu, menimbulkan aliran-aliran yang tidak sama.Di antara para teolog ada yang berpendapat bahwa akal mempunyai daya yang kuat untuk memberi interpretasi yang bebas tentang teks Alqur’an dan hadis nabi sehingga dengan demikian timbullah aliran teologi<span>  </span>yang dipandang liberal dalam Islam, yaitu Mu’tazilah. Di pihak lain, terdapat pula sekelompok teolog yang melihat bahwa akal tidak mampu untuk memberikan interpretasi terhadap teks Alqur’an,<span>  </span>seandainyapun dianggap mampu resiko kesalahannya lebih besar daripada kebenaran yang akan didapatkan. Kendatipun justru fakta ini yang didapatkan, namun semua sepakat bahwa sumber kebenaran itu hanyalah wahyu Tuhan itu.</font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Ada</span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"> berbagai masalah yang sering ditemukan dalam model pemikiran tersebut, yaitu bahwa dalam pemikiran kalam, teks<span>  </span>yang dibaca itu sering terlepas dari tradisi, konteks atau sejarah yang melingkupi turunnya ayat yang dibacakan itu. Padahal tradisi jauh lebih kompleks dibanding<span>  </span>penuturan sebuah teks. Sebuah contoh yang disampaikan oleh Komarudin Hidayat, ibarat gambar sebuah gunung dalam sebuah peta, dalam kenyataannya yang ditemukan dalam teritori yang namanya gunung keadaannya jauh lebih kompleks ketimbang apa yang tergambar di dalam peta itu.<a name="_ftnref7" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn7" title="_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[7]</span></span></span></span></a></span></font><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Dalam perspektif di atas, teks memainkan peran yang sangat besar bagi terjalinnya komunikasi antara Tuhan dan manusia dan antarmanusia sendiri, antara zat (Tuhan) yang metafisik dengan manusia yang<span>  </span>konkret. Masalah yang jarang kita temukan dalam pemikiran kalam adalah bahwa teks (Alqur’an)<span>  </span>yang diyakini sebagai firman Tuhan Yang Maha Gaib dalam kenyataan telah memasuki wilayah historis. Oleh karena itulah dalam memahami teks (Alquran), justru yang banyak ditemukan adalah analogi konseptual antara <em>the world of human being</em> dan <em>the world of God</em> dan tidak menggunakan analogi <em>historis-kontekstual</em>, misalnya antara dunia Muhammad yang <em>Arabic</em> dengan dunia umat Islam lain yang hidup di zaman serta wilayah yang berbeda sama sekali. Meskipun kita yakini bahwa teks Alqur’an<span>  </span>se akan-akan sebagai “penjelmaan”<span>  </span>dan “kehadiran” Tuhan, namun bagaimanapun juga begitu memasuki wilayah sejarah, firman tadi terkena batasan-batasan kultural yang berlaku pada dunia manusia.</font><a name="_ftnref8" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn8" title="_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[8]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Paling tidak, ada tiga faktor yang menyebakan bahwa kitab suci ini mempunyai eksistensi yang tetap dan<span>  </span>diyakini secara penuh, yakni<em>: pertama</em>, ia dipelihara melalui tradisi lisan secara turun temurun. <em>Kedua,</em> terdokumentasikan dalam bentuk tulisan yang terjaga rapi sehingga terhindar dari manipulasi historis. <em>Ketiga</em>, diperkuat lagi oleh tradisi<span>  </span>dan ritual keagamaan yang selalu memasukkan ayat-ayat Alqur’an sebagai bacaan dan do’a-do’a.</font><a name="_ftnref9" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn9" title="_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[9]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Bila dihubungkan dengan aliran-aliran yang ada<span>  </span>dalam ilmu kalam, baik tradisional maupun liberal, kedua model atau cara berfikir kelompok tersebut tetap terkait dengan teks tadi. Teologi liberal menghasilkan paham dan pandangan liberal tentang ajaran-ajaran Islam. Penganut teologi ini hanya terikat pada dogma-dogma yang dengan jelas lagi tegas<span>  </span>disebut dalam ayat-ayat Alqur’an maupun hadis, yaitu teks ayat Alqur’an dan hadis yang tidak bisa diinterpretasi lagi mempunyai arti selain arti <em>harfiyah</em>. Sebaliknya penganut teologi tradisional kurang mempunyai ruang gerak<span>  </span>karena mereka terikat tidak hanya pada dogma-dogma tetapi juga pada ayat-ayat yang mengandung arti <em>zanni,</em> yaitu ayat-ayat yang<span>  </span>bisa mengandung arti lain dari arti <em>letterlek</em> yang terkandung di dalamnya, dan ayat-ayat ini mereka artikan secara harfiyah.</font><a name="_ftnref10" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn10" title="_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[10]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"></span><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">2. Metode.</font></span></strong></p>
<p><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"></span></strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Bahasa<span>  </span>merupakan aspek yang mendominasi tradisi pemikiran kalam, terutama bila mereka (<em>mutakallimin</em>) yang ahli di bidang<span>  </span>ini ingin mengeluarkan sebuah produk hukum atau<span>  </span>ajarannya. Dominasi kajian bahasa dalam ilmu kalam di antaranya memang<span>  </span>disebabkan oleh faktor historis, artinya kehadiran para teolog pada awalnya adalah sebagai propogandis suatu aliran tertentu. Berkaitan dengan belum tersedianya perangkat keras yang<span>  </span>memadai sa’at itu, maka praktis retorika adalah pilihan yang tepat. Di sisi lain para mutakallimin ini adalah para konseptor dalam merumuskan konsep-konsep iman dan sekaligus menjadi<span>  </span>pembelanya.</font><a name="_ftnref11" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn11" title="_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[11]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Salah satu bentuk konkret keterlibatan mereka dengan aturan penafsiran teks adalah munculnya masalah <em>takwil </em>dan <em>i’jaz</em> Alqur’an. Persoalan lafadz dan makna di kalangan mutakallimin juga cukup mencolok dalam diskursus mereka mengenai Alqur’an<span>  </span>sebagai makhluk atau kalam Allah. Karena itulah di<span>  </span>sini muncul persoalan apakah kalam itu sendiri<span>  </span>terdiri dari <em>lafadz</em> (huruf) dan <em>ma’na</em> atau kalam <em>nafsi</em> yang tidak terdiri dari <em>lafadz </em>dan <em>ma’na.</em> Dalam hal <em>takwil</em> misalnya, intensitas kajian <em>lafadz</em> dan <em>ma’na</em> menjadi begitu tinggi karena takwil dalam pemikiran Arab Islam hanya berlaku untuk wacana Alquran saja dan tidak lepas dari aturan-aturan bahasa yang ketat. Karena bahasa yang ketat dalam pemaknaan inilah menjadikan takwil mereka tetap berada dalam dataran dialektis belaka (bayani).</font><a name="_ftnref12" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn12" title="_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[12]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Apa yang terjadi pada pemikiran kalam tidak jauh berbeda dengan pemikiran<span>  </span>yang ditemukan dalam hukum, yaitu adanya logika bahasa dan problematika makna (meaning). Dari awal, paling tidak yang menjadi bahan bakunya<span>  </span>adalah problematika lafadz dan makna. Persoalan cara mengidentifikasi hubungan antara keduanya inilah yang menggelitik ahli bahasa dan gramatika arab untuk terlibat dalam diskursus ini. Kecenderungan umum daripada eksponen studi ini adalah bahwa mereka lebih melihat lafaz dan makna sebagai dua fenomena yang terpisah atau minimal menjadikan keduanya sebagai dua kutub yang masing-masing berdiri sendiri<span>  </span>dan bebas antarsatu dengan lainnya.</font><a name="_ftnref13" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn13" title="_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[13]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> Kecenderungan seperti ini akan kita temukan lagi<span>  </span>di kalangan ahli bahasa, karena itulah hubungan antara keduanya nanti terlihat memiliki kecenderungan yang penuh variasi dan tunduk pada identifikasi yang berbeda pula. Atas dasar ini, secara global, dapat dikatakan bahwa berbagai perdebatan yang terjadi, isu sentralnya<span>  </span>adalah<span>   </span>hubungan antara <em>lafaz<span>  </span></em>(teks) dan <em>makna</em> (meaning) tadi. Isu itulah yang menjadi pangkal tolak<span>  </span>para kolektor bahasa, yakni pemikiran tentang “makna” dan “yang dinamai” di satu sisi, serta “lafadz” dan “nama” di sisi lain.</font></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Persolan mendasar lain dalam hal takwil, seperti yang sudah disinggung sebelumnya, adalah hubungan antara nama (isim, lafadz) dengan yang diberi nama (makna). Nama (<em>isim</em>) menurut para mutakallimin terdiri dari dua jenis, yakni nama substansi (<em>isim zat</em>) dan nama kualitas (<em>isim sifat</em>). Jika nama substansi tidak bermakna<span>  </span>selain isyarat terhadap sebuah subsatnsi, maka nama kualitas memiliki makna yakni menunjuk pada kualitas atau <em>species</em> sehingga merupakan makna intelektual. Karena kaum dialektis ini memisahkan antara lafadz dan makna, maka mereka memprioritaskan makna dalam hal nama kualitas. Menurut mereka ada <em>makna</em> yang tanpa nama (lafadz). Artinya, makna itu sudah ada dalam akal terlebih dahulu sebelum diekspresikan dengan lafadz (nama). Jadi, sebelum lafadz itu diucapkan harus diketahui dahulu makna dan dimana konteksnya.</font></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Maksud pembicaraan dan konteks inilah yang menjadi pilar utama pijakan takwil. Konteks adalah semacam kesepakatan antara pembicara dengan pendengar atau pembaca. Sedangkan maksud sipembicara ini diperoleh melalui analogi, yakni analogi yang abstrak kepada yang konkret. Dalam proses analogi ini harus ada yang<span>  </span>disebut <em>dalil</em> atau <em>qarinah</em> sehingga antara yang abstark dan yang konkret bisa dianalogikan. Inilah takwil yang dimaksudkan oleh mutakallimin seperti Mu’tazilah, sehingga syarat takwil menurut mereka ada tiga, yaitu: konteks, maksud pembicaraan dan <em>dalil</em>.</font></span></p>
<p style="text-indent:36pt;margin:0;" class="MsoBodyTextIndent"><font face="Times New Roman">Jadi dengan demikian takwil dalam pandangan ahli kalam (Mu’tazilah misalnya) tidak lebih dari merujukkan ayat yang <em>mutasyabih</em> kepada yang <em>muhkam</em>. Sesuai dengan dua kategori ayat ini, lalu mereka membagi teks <em>syar’i</em> menjadi<span>  </span>dua kelompok, yakni: kelompok yang disebut<span>  </span><em>manzum al-khitab</em> dan kelompok <em>ma’qul al-khitab</em>, dan ini sudah barang tentu menyangkut masalah lafadz dan makna. Mengenai hubungan antar keduanya<span>  </span>dapat disimpulkan bahwa: <em>pertama</em>, lafadz bisa dengan sendirinya menunjuk pada arti dalam kapasitasnya sebagai dalil dan argumentasi tidak perlu bantuan, <em>ke dua</em>, lafadz bisa menunjuk pada makna tapi makna yang dimaksud<span>  </span>adalah makna yang<span>  </span>lain, <em>ke tiga</em>, lafadz hanya sekedar mengingatkan pada makna yang sudah diperoleh akal. Pada kondisi pertama, peran akal hanya sebagai alat memahami dan menghimpun makna, pada kondisi kedua peran akal sebagai alat penjelas dan penggali makna, dan pada kondisi ketiga, akal adalah alat takwil dan deduksi, tapi yang jelas,dari keseluruhan hubungan lafadz dan makna di atas peran akal tidak pernah mandiri tanpa dibayang-bayangi oleh teks syar’i. Jika memang demikian pola kerjanya maka dari sudut kajian<span>  </span>lingguistik kontemporer,<span>  </span>dapat dijelaskan<span>  </span>bahwa pemikiran kalam<span>  </span>dan pola pikir ‘aqidah<span>  </span>lebih menganut aliran monistik,</font><a name="_ftnref14" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn14" title="_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[14]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> dan bukannya menganut aliran dualistik maupun pluralistik. </font></p>
<p><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"> </font></span><font face="Times New Roman"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><span>3.<span style="font:7pt 'Times New Roman';">      </span></span></span></strong><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">Validitas atau Keabsahan Kebenaran Dalam Ilmu Kalam.</span></strong></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"></span></strong></font><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Berdasarkan objek pembahasan ilmu kalam, yakni eksistensi Tuhan dan sifat-sifat Nya dalam hubungannya dengan alam semesta serta manusia,<span>  </span>metode yang digunakan adalah deduktif dengan menjadikan eksistensi Tuhan sebagai suatu hal yang diyakini kebenarannya.. Penalaran metode deduktif mensyaratkan penggunaan teori koherensi sebagai ukuran kebenaran dalam proses pengambilan suatu pengetahuan. Menurut teori koherensi ini kebenaran satu proposisi hanya dapat diterima jika sesuai dengan proposisi sebelumnya yang sudah diterima kebenarannya.</font><a name="_ftnref15" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn15" title="_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[15]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> Berangkat dari pernyataan dan pengakuan yang sudah mutlak benar itu<span>  </span>kemudian diikuti<span>  </span>dengan prinsip-prinsip yang membuktikannya.<span>  </span>Para ahli kalam berbeda dalam perspektif ini karena adanya perbedaan dalam menampilkan konsep Tuhan yang dijadikan premis utama.</font></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Ketika kaum Mu’tazilah tertarik pada masalah kebebasan untuk berkehendak dan berbuat, maka titik pangkal pemikiran mereaka bukan pada masalah itu sendiri tetapi mereka mengkaji masalah tersebut selama ada kaitannya dengan eksistensi Tuhan, yaitu apakah kebebasan berkehendak dan berbuat sesuai atau tidak dengan konsep mengenai Tuhan Yang Maha Adil. Bagi kaum Mu’tazilah, seperti yang diterangkan oleh ‘Abdul Jabbar, keadilan erat hubunganya dengan hak, dan konsep Tuhan adil mengandung arti bahwa segala perbuatannya adalah baik, Tuhan tidak dapat berbuat buruk dan<span>  </span>tidak dapat mengabaikan kewajiban-kewajibanNya terhadap manusia.</font><a name="_ftnref16" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn16" title="_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[16]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Berbeda dengan kaum Mu’tazilah yang menjunjung tinggi konsep keadilan Tuhan, kaum As’ariyah justru menjunjung tinggi<span>  </span>konsep kekuasaan mutlak Tuhan. Doktrin kaum Asy’ariyah mengenai hubungan perbuatan manusia<span>    </span>dalam kaitannya dengan kekuasaan mutlak Tuhan digambarkan dengan istilah <em>al-Kasb</em>. Al-Kasb, demikian al-Asy’ari mengatakan, adalah sesuatu yang timbul dari yang berbuat<span>  </span>(<em>al-muktasib</em>) dengan perantaraan daya yang diciptakan.</font><a name="_ftnref17" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn17" title="_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[17]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman">Dengan kata lain, yang mengujudkan al-kasb (perbuatan manusia) sebenarnya adalah Tuhan sendiri, karena bagi al-Asy’ari Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak yang menghendaki segala apa yang mungkin dikehendaki. Jika Tuhan menghendaki sesuatu, ia pasti ada dan jika Tuhan tidak menghendakinya niscaya ia tiada.</font><a name="_ftnref18" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn18" title="_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[18]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> Hal ini didasarkan firman Tuhan, “Kamu tidak menghendaki kecuali Tuhan menghendaki” (QS. 76: 30). Ayat ini di artikan oleh al-Asy’ar bahwa manusia tidak bisa menghendaki sesuatu itu. Jadi dari konsep kekuasaan mutlak Tuhanlah al Asy’ari sampai kepada kesimpulan bahwa perbuatan-perbuatan manusia adalah diciptakan Tuhan.</font><a name="_ftnref19" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn19" title="_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[19]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Berdasarkan analisa terhadap doktrin yang<span>  </span>dikemukakan oleh kedua aliran<span>  </span>teologi di atas nampaklah bahwa adanya penggunaan metode <em>deduktif</em> dalam kajian kalam, yaitu penurunan doktrin dari yang bersifat umum ke doktrin yang bersifat khusus<span>  </span>dengan konsekwensi bahwa teori <em>koherensi</em><span>  </span>sebagai kriteria dalam mencapa kebenaran. Penggunaan teori koherensi sebagai kriterium kebenaran sudah barang tentu menjadikan pemikiran kalam klasik bercorak metafisik-spekulatif dan kurang mampu berdialog dengan<span>  </span>realitas empiris kehidupan masyarakat yang terus berubah. Corak bangunan epistemologi ilmu kalam yang demikian, yakni kriteria kebenaran didasarkan kepada kesesuaian logik antara doktrin-doktrin<span>  </span>yang dibangun memerlukan adanya<span>  </span>kritik historis. Produk pemikiran kalam klasik sebagai respon terhadap fenomena masyarakat<span>  </span>yang muncul pada penggalan<span>  </span>sejarah<span>  </span>tertentu barangkali memang relevan<span>  </span>dengan persoalan-persoalan pada<span>  </span>masanya, tapi akan menjadi mandul dan kehilangan makna ketika dihadapkan pada fenomena empirik kontemporer. Pada sisi inilah barangkali diperlukan adanya pembaharuan epistemologi ilmu kalam klasik yang demikian.</font></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Pola logika pemikiran Kalam yang bersifat deductive adalah mirip-mirip dengan pola berpikir Plato. Plato pernah berpendapat bahwa segala sesuatu<span>  </span>yang dapat diketahui oleh manusia adalah berasal dari idea, yaitu ide-ide yang telah tertanam dan melekat pada diri manusia<span>  </span>secara kodrati sejak awal mulanya. Ide kebajikan dan keadilan misalnya, menurut Plato, tidaklah diketahui lewat pengalaman historis-empiris-induvtive tapi diperoleh dari ide bawaan yang dibawa oleh manusia sejak sebelum lahir. Manusia tinggal mengingat kembali tentang ide-ide bawaan yang telah melekat begitu rupa dalam keberadaannya.<span>  </span>Seperti yang ditulis Amin Abdullah bahwa Plato tidak pernah menyetujui pendapat bahwa ilmu pengetahuan dapat diperoleh manusia<span>  </span>lewat pengetahuan dan pemeriksaan<span>  </span>secara cermat dan seksama terhadap realitas alam dan realitas sosial sekitar lewt pengamatan<span>  </span>dan engalaman indrawi. Pemikiran Islam pada umumnya<span>  </span>dan pemikiran kalam pada khususnya<span>  </span>juga bersifat deductive seperti itu. Hanya saa fungsi ide-ide bawaan dalam pola pikir Plato terebut diganti untuk tidak mengatakan<span>  </span>diislamkan oleh ayat-ayat Alquran<span>  </span>dan teks-teks hadis. Bahkan sering kali melebar<span>  </span>sampai keijma’ dan qiyas. Perjhatian kepada perlunya <em>dalil</em> dan <em>istidlal </em><span>  </span>sebagai landasan pola pikir dan pola bertindak dalam kehidupan keseharian umat Islam. Pola pikir ini dengan mudah menggiring seseorang dan kelomok ke arah model berfikir yang justifikatif terhadap tek-teks yang sudah tersedia.</font><a name="_ftnref20" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn20" title="_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[20]</span></span></span></span></a></span><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"> </font></span></strong></p>
<p><font face="Times New Roman"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;">4. </span></strong><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font size="+0">Membangun Ilmu Kalam Kontemporer.</font></span></strong></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><strong><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"></span></strong></font><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Jika teologi betul-betul ingin menjadi ilmu, demikian Nancey Murphy mengutip Wolfhart<span>  </span>Pannenberg, maka ia tidak cukup semata-mata merupakan studi atas kitab suci tapi harus mencari dan menemukan sejumlah masukan berdasarkan data empiris kontemporer.</font><a name="_ftnref21" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn21" title="_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[21]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> Pendapat senada dikemukakan oleh guru besar Studi<span>  </span>Agama dari University of California, Walter H. Capps, bahwa studi agama masa depan harus meminjam dan mengadaptasi<span>  </span>sejumlah pemahaman dan penemuan dari berbagai disiplin keilmuan yang lain.</font><a name="_ftnref22" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn22" title="_ftnref22"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[22]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"><span>    </span>Di bagian awal tulisan ini disampaikan bahwa pola pikir dan logika yang digunakan dalam ilmu kalam (<em>‘aqidah,</em><span>  </span>doktrin, dogma) adalah pola pikir deduktive, pola pikir yang sangat tergantung pada sumber utama (teks). Sejauh yang diketahui bahwa pola pikir deductive hanyalah salah satu saja daripola pikir yang ada. Masih ada yang disebut dengan inductive dan abductive</font><a name="_ftnref23" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn23" title="_ftnref23"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[23]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman">.</font></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman">Pola pikir inductive mengatakan bahwa<span>  </span>ilmu pengetahuan bersumber<span>  </span>dari realitas<span>  </span>empiris-historis. Realitas empiris-historis yang berubah-ubah, yang bisa ditangkap oleh indera dan dirasakan oleh pengalaman dan selanjutnya diabstraksikan<span>  </span>menjadi konsep-konsep, rumus-rumus, ide-ide, gagasan-gagasan, dalil-dalil yang disusun sendiri<span>  </span>oleh akal pikiran.</font><a name="_ftnref24" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn24" title="_ftnref24"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[24]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> Dalam pola pikir inductive tidak ada sesuatu apapun yang disebut ilusif. Semua yang dikenal oleh manusia dalam dunia konkret ini<span>  </span>dapat dijadikan<span>  </span>sebagai bahan dasar ilmu pengetahuan, tidak terkecuali ilmu kalam. Tapi menurut Amin Abdullah, dalam analisis sejarah perkembangan ilmu pengetahuan (history of science) pola pikir deductive dan inductive dianggap sudah tidak memadai lagi untuk dapat menjelaskan secara cermat<span>  </span>tata kerja diperolehnya ilmu pengetahuan yang sesungguhnya. Perkembangan ilmu pengetahuan era abad 20 memunculkan kategori baru dalam pola pikir keilmuan, yaitu pola pikir abductive. Pola pikir ini lebih menekankan <em>the logic of discovery</em> dan bukan <em>the</em> <em>logic of justification. </em>Pengujian secara kritis terhadap apa yang dapat disebut sebagai bangunan keilmuan, termasuk didalamnya rumusan manuasia tentang keilmuan agama atau rumusan-rumusan aqidah dapat dikaji kembali validitas dan kebenarannya melalui pengalaman-pengalaman yang terus-menerus berkembang dalam kehidupan praksis sosial yang aktual.</font><a name="_ftnref25" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn25" title="_ftnref25"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[25]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Persoalan-persoalan yang dihadapi pada masa sekarang ini lebih diwarnai oleh isu-isu yang menuntut masalah kemanusiaan secara universal. Isu seperti demokrasi, pluralitas agama dan budaya, hak asasi manusia, lingkungan hidup, kemiskinan struktural menjadi tantangan sekaligus menjadi agenda persoalan yang dihadapi oleh generasi kini. Isu-isu tersebut jelas berbeda dengan isu-isu abad tengah dan zaman klasik yang biasa diangkat dalam kajian kalam dan falsafah Islam klasik.</font><a name="_ftnref26" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn26" title="_ftnref26"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[26]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Ketika dihadapkan kepada isu-isu tersebut pengembangan dan pembaharuan pemikiran ilmu kalam memang merupakan keniscayan. Tahapan awal dalam upaya mengembalikan “keseimbangan” antara bobot pemikiran ilmu kalam klasik<span>  </span>yang bermuatan moralitas normatif dan tuntutan perkembangan ilmu pengetahan kontemporer yang bersifat empiris mutlak diperlukan kritik epistemologis yang mendasar.</font><a name="_ftnref27" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn27" title="_ftnref27"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[27]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> Selanjutnya upaya rekonstruksi harus menuju sebuah format teologi yang bisa berdialog dengan realitas dan perkembangan pemikiran yang<span>  </span>berjalan sa’at ini.</font></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Untuk itu objek kajian ilmu kalam klasik yang bersifat transendent-spekulatif, seperti pembahasan tentang sifat-sifat Tuhan, yang relevansinya kurang jelas dengan kehidupan masa kini<span>  </span>harus diganti dengan kajian yang lebih aktual, seperti hubungan Tuhan dengan manusia dan sejarah, korelasi antara keyakinan agama dengan pemeliharaan keadilan dan masih banyak lagi aspek lain. Bahkan Hassan Hanafi, seorang filosuf Muslim kontemporer secara radikal melontarkan tentang perlunya diupayakan pergeseran wilayah pemikiran yang dahulu hanya memusatkan perhatian kepada persoalan-persoalan ketuhanan (teologi) ke arah paradigma pemikiran yang lebih menelaah dan mengkaji secara serius persoalan kemanusiaan (antropologi).</font><a name="_ftnref28" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn28" title="_ftnref28"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[28]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> Ada delapan langkah yang ditawarkan oleh Hassan Hanafi menuju perubahan ini. 1. from God to Land; 2. from Eternity to Time; 3. from Predistination to Free will 4; from Authoryti to Reason 5; from Theory to Action; 6. from Charisma to Mass-participation; 7.<span>  </span>from Soul to Body; dan 8 from Eschatology to Futurology.</font><a name="_ftnref29" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn29" title="_ftnref29"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[29]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Begitu pula sumber kebenaran ilmu kalam kontemporer, tidak hanya terpusat pada wahyu dan dataran konsep yang dipikirkan tapi secara metodologis<span>  </span>harus menerima masukan dari produk barbagai disiplin keilmuan kontemporer.</font><a name="_ftnref30" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn30" title="_ftnref30"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[30]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> Nancy Murphy, seorang ahli teologi mengatakan bahwa teori koherensi sebagai kriteria kebenaran<span>  </span>dalam kajian teologi (Teologi Islam, pen.)<span>  </span>klasik, pada ilmu kalam kontemporer bukan lagi satu-satunya pilihan epistemologis.</font><a name="_ftnref31" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn31" title="_ftnref31"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[31]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"><span>  </span>Di sini, Murphy pertama melihat apa yang disampaikan oleh Alasdair MacIntyre dan Robert Bellah dan lainnya dimana mereka memperbaharui pandangan betapa pentingnya peran sebuah<span>  </span>komunitas.</font><a name="_ftnref32" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn32" title="_ftnref32"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[32]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Para penganut modernis mengasumsikan bahwa individu merupakan seorang yang cakap sama halnya dengan yang lain untuk<span>  </span>membentuk berbagai kepercayan dan mengucapkan bahasa (pembimbing bagi lainnya). Pengetahuan dan bahasa masyarakat hanyalah semata-mata koleksi dari individu-individu. Akan tetapi dalam priode <em>posmodernism</em>, komunitas memainkan sebuah aturan yang sangat penting. Komunitas ilmuanlah yang memutuskan kapan berbagai fakta dipandang<span>  </span>telah menyimpang secara serius. Komunitas harus menetapkan dalam hal apa perubahan dilaksanakan dan bagaimana ia dilakukan. Aturan-aturan permainan bahasa dimana seorang terlibat<span>  </span>secara pribadi di dalamnya dan menentukan apa yang semestinya dikatakan atau tidak dikatakan adalah sesuatu yang semestinya mendapat perhatian. Pendek kata,<span>  </span>bahasa dan apa yang diketahui merupakan praktek-praktek yang tidak pernah lepas dari tradisi, keduanya adalah prestasi komunitas.</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Dalam era posmodernism, <em>holisme</em> sebagai bentuk epistemologi dan teori makna di pihak lain pada dasarnya memiliki hubungan yang tidak bisa ditawar lagi. Oleh karena itu, dalam pandangan Murphy, untuk menetapkan jaringan<span>   </span>kita terhadap kepercayan dalam memandang dunia, seseorang harus terlebih dahulu merubah kepercayaannya yang khusus (internalized) tentang dunia sekaligus dapat menetapkan berbagai macam arti supaya memperoleh hasil yang lebih baik. Keyakinan dan kebermaknaan tak bisa dipisahkan.</font><a name="_ftnref33" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn33" title="_ftnref33"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[33]</span></span></span></span></a></p>
<p><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Dalam hubungannya dengan postmodern-theology, Murphy berangkat dari teologi <em>post-liberal</em> Lindbeck dengan teori holistiknya mengenai pengetahuan dan pengenalannya terhadap fungsi bahasa yang berbeda-beda.</font><a name="_ftnref34" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn34" title="_ftnref34"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[34]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> Demikian pula Thienmann yang melihat secara teliti hubungan antarkeduanya dalam kaitannya dengan<span>  </span>usulan sebuah pembenaran (justification) yang tanpa dasar (terlembaga) terhadap doktrin wahyu.</font><a name="_ftnref35" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn35" title="_ftnref35"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[35]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Dalam usulannya terhadap teologi, ia menggunakan pendekatan “yang tanpa dasar” terlebih dahulu. Artinya, dengan ungkapan sederhana,<span>  </span>tanpa terikat oleh suatu ajaran yang dilembagakan atau agama yang sudah dilembagakan. Dalam perspektif teologi Islam (ilmu kalam), Islam misalnya bukan lagi Khawarij, bukan al-Asy’ariah, Mu’tazilah dan lain sebagainya. Di sini Thienmann menggunakan model <em>pengetahuan yang</em> <em>bebas dasar teori</em> (terlembagakan) atau <em>starting point</em> atau pembenaran terlebih dahulu dari sebuah keyakinan. Era postmodernism ingin melihat fenomena sosial, fenomena keberagamaan apa adanya tanpa harus terlebih dahulu “terkurung”<em><span>   </span></em>oleh<span>  </span>anggapan dasar dan teori baku<span>  </span>apalagi standard yang diciptakan pada masa rentang waktu tertentu (modernism). Demikian keberagamaan dan kepercayaan dilihat dalam perspektif ini.</font></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Pandangan terhadap teologi tanpa konsep awal ini, memang pada mulanya merupakan gambaran utama keyakinan orang-orang Kristen<span>  </span>dan praktek-praktek ibadahnya. Hal ini mencoba untuk menunjukkan keyakinan orang-orang Kristen itu dapat dipahami, cocok dan dijamin ketepatannya, memberikan perhatian praktis gambaran yang inheren dalam kepercayan dan praktek ibadah<span>  </span>mereka secara khusus ketimbang hanya merupakan sebuah teori besar saja dari kaum rasionalis. Seperti yang telah diketahui bahwa teori-teori ilmu sosial modern mengandaikan adanya struktur dan rekonstruksi baku yang bisa dibangun secara kokoh dan bisa berlaku secara universal. Apa yang disebut dengan <em>grand theory</em>, begitu hebatnya, sehingga orang percaya berlebihan terhadap keampuhan teori tersebut.<span>  </span>Grand Theory dianggap mampu menjelaskan berbagai gejala sosial dimana saja dan kapan saja. Dominasi teori-teori besar seperti itu, dengan mengikuti apa yang dikatakan Amin Abdullah, menutup kemungkinan munculnya teori-teori<span>  </span>lain yang barangkali jauh lebih dapat membantu memahami realitas dan memecahkan persoalan. Klaim adanya metodologi baku, standard, yang tak bisa diganggu gugat, itulah yang ditentang oleh orang-orang seperti Paul Feyerabend.</font><a name="_ftnref36" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn36" title="_ftnref36"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[36]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Bila konsep di atas dihubungkan dengan Islam, ada<span>  </span>berbagai ciri khas teologi<span>  </span><em>non-foundationalism</em> seperti yang disebutkan itu: <em>pertama,</em> pembenaran kepercayan adalah khusus kepada keimanan seorang Muslim, jama’at dan berbagai tradisinya; <em>kedua</em>, bahasa teologis yang ditawarkan adalah terikat kepada<span>  </span>aspek keimanan dan <em>ketiga</em>, teologi menggunakan pembenaran menyeluruh dan mencari hubungan antara kepercayaan yang diperselisihkan (<em>khilafiyah</em>) dan jaringan keyakinan yang saling berhubungan dimana ia terdapat pada proses sebuah pendekatan rasional.</font><a name="_ftnref37" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn37" title="_ftnref37"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[37]</span></span></span></span></a></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Kendatipun semangat<span>  </span>fundamentalism begitu menyolok dalam fenomena seperti ini tapi yang demikian bukanlah satu-satunya gejala yang ada di dalamnya, bahkan terdapat perkembangan yang sering bertolak belakang. Perubahan yang cenderung anarchis dan kemajemukan wacana mendorong sebagian cendikiawan<span>  </span>untuk memunculkan paradigma pemikiran<span>  </span>yang lebih inklusif, toleran, dan perlunya pengertian terhadap kelompok lain.</font><a name="_ftnref38" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn38" title="_ftnref38"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[38]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"> Oleh karena itu menurut Murphy, seseorang harus memperhatikan pertanyaan Jeffrey Stout “apakah kebenaran berbagai kelompok kepercayaan dan validitas pemahaman mereka semata-mata terserah kepada mereka”. Thienmann, bahkan, mengatakan tidak ada petunjuk sama sekali untuk memilih antara berbagai sistem teologis yang masing-masing berbeda. Menurut Linbeck masalah kebenaran muncul dalam bentuk: <em>pertama</em>,<span>  </span>konsistensi atau pertalian masing-masing bagian dari sebuah sistem, yaitu sistem dalil-dalil yang ditawarkan, pernyataan-pernyataan doktrinal teologis dan praktek-praktek keagamaan<span>  </span>masyarakat; <em>ke dua</em>, Lindbeck sendiri mengajukan pertanyaan tentang :kebenaran agama itu (its self).</font><a name="_ftnref39" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn39" title="_ftnref39"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[39]</span></span></span></span></a></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Dalam melihat agama sebagai sebuah keyakinan, Lindbeck, secara epistemilogis, membandingkan agama-agama dengan pemahaman teoritis ilmu pengetahuan, khususnya sains. Dalam sebuah teori, seseorang harus mengevaluasi klaim-klaim kebenaran berdasarkan ketetapan di antara berbagai keyakinan beserta pengalaman-pengalaman yang ada. Untuk evaluasi ini seseorang harus menggunakan berbagai kriteria, termasuk kemampuannya untuk memahami data baru dan menyiapkan penafsiran yang mudah dipahami dari berbagai situasi.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyText"><font face="Times New Roman"><span><strong> 5</strong>. </span><strong>Kritik: Teologi sebagai Aktivitas Teoritis.</strong></font></p>
<p><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Dalam tulisannya, Murphy, dengan mengutip pemikiran Thienmann dari karyanya <em>Revelation and Theology</em> mengkritik pendekatan modern yang melihat bahwa teologi sebagai kajian teoritis semata. Dalam hubungannya dengan teologi Islam (Ilmu Kalam), dengan menggunakan pendekatan ini, ada dua hal penting dalam kajian teologi yaitu: bawa ia harus bebas dari argumen logik kepercayaan dan praktek-praktek lokal keagamaan orang Islam yang berada pada kurun waktu dan ruang tertentu, kemudian di dalamnya terkandung referensi yang memada untuk mengukur pendapat internal tradisi-tradisi Muslim sendiri.</font></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoBodyTextIndent2"><font face="Times New Roman">Terhadap masalah ini, Imre Lakatos, seorang yang banyak berpengaruh dalam pemikiran Murphy,<span>  </span>sudah banyak berbicara<span>  </span>tentang bagaimana<span>  </span>teologi ini didekati dengan program riset, memang memiliki<span>  </span>kemiripan dengan<span>  </span>postmodernism yang ingin merubah, memperbaiki, membongkar serta membangun kembali konstruksi pemikiran keagamaan yang dipandangnya kurang peka terhadap tantangan perkembangan dan perubahan sejarah yang sedang berlangsung.</font></p>
<p><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Lewat pendekatan progran riset itu<span>  </span>nampaknya perubahan yang akan dilakukan bukanlah konstruksi bangunan dasar keagamaan secara keseluruhan melainkan wilayah<span>  </span>periperial atau wilayah interpretasi terhadap ajaran. Dalam program riset Imre<span>  </span>Lakatos, terdapat aturan-aturan metodologis yang salah satunya disebut dengan <em>negative heuristic</em>. Tujuan metode ini adalah mempertahankan <em>hard core</em> (inti pokok). Dalam <em>negative heuristic</em>, penelitian tidak boleh diarahkan kepada <em>hard core</em> akan tetapi diarahkan kepada <em>hipotesis<span>  </span>pembantu</em> yang berada di sekeliling <em>hard core</em> yang berfungsi sebagai <em>protective belt</em> (lingkaran pengaman). Hipotesis bantu inilah yang menjadi sasaran penelitian sehingga harus selalu dilakukan penyesuaian atau<span>  </span>menggantinya secara keseluruhan untuk mengamankan <em>hard core</em>.</font><a name="_ftnref40" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn40" title="_ftnref40"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[40]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"><span>  </span>Dengan lain ungkapan, bahwasanya wilayah inti (hard core) daripada wahyu serta dimensi normativitas ajaran agama akan tetap seperti itu apa adanya, dan hanya wilayah interpretasi ajaran agama yang bersifat <em>historis-relativ</em> yang akan masih berkembang sesuai dengan perkembangan akal budi dan perkembangan ilmu pengetahuan manusia, yang akan terkena proses dekonstruksi. Jika memang begitu adanya, maka dengan terjadinya proses dekonstruksi<span>  </span>justru menunjukkan adanya dinamika keberagamaan manusia dalam arti yang sesungguhnya.</font></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Berbeda dengan Lakatos, Thienmann menghendaki<span>  </span>sebuah teologi yang terlepas dari kekuatan lembaga-lembaga atau dasar-dasar teori sebelumnya, sehingga seseorang akan dapat berimprovisasi sendiri. Ia mengatakan tidak ada petunjuk untuk memilih salah satu dari berbagai sistem yang ada. Jadi ciri khas dari sebuah teologi postmodernism itu memang <em>anti-foundational</em> yang<span>  </span>menolak segala bentuk konsep yang berfungsi sebagai starting point untuk membangun sebuah kebenaran, dan juga <em>anti-totalizing</em> yang mengkritik teori tentang totalitas dari sebuah realitas.</font><a name="_ftnref41" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn41" title="_ftnref41"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;font-family:'Times New Roman';">[41]</span></span></span></span></a><font face="Times New Roman"><span>  </span>Nancey Murphy sebenarnya berusaha untuk menarik sebuah sintesis dari dua model pemikiran di atas. Disatu pihak ia banyak mengambil pola pikir program riset Imre Lakatos untuk tujuan sebuah teologi rekonsiliasi yang dapat menilai jasa-jasa dari sistem kepercayaan yang berbeda, sedangkan di lain pihak memperhatikan peringatan Thienmann akan kerugian menerapkan dasar-dasar umum rasionalitas yang begitu kurang memperhatikan dan berusaha merubah model-model pembenaran serta evaluasi<span>  </span>yang melekat pada ajaran bahasa pertama keyakinan orang-orang yang sudah menganut sebuah agama tertentu dan praktek-praktek ibadah mereka. Masing-masing program riset yang bersifat teologis dapat menunjukkan logik internnya sendiri berdasarkan atas keyakinan dan pembenaran yang ditawarkan oleh komunitas yang relevan.</font></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"><span>            </span>Apa yang ingin disampaikan disini<span>  </span>adalah bahwa kebenaran agama itu biarlah berjalan apa adanya, substansi kebenaran agama berlangsung apa adanya dan tak perlu diragukan apalagi ditolak. Hanya saja yang utama dari semua itu adalah perlunya pembenahan ulang terhadap berbagai konsep dan teori dimana dan dalam kondisi apa<span>  </span>ilmu kalam itu dibangun. </font></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font face="Times New Roman"> </font></span></p>
<p><font face="Times New Roman"><span><strong>6.<font size="+0">Catatan Penutup.</font></strong></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font size="+0"><span>            </span></font></span></font></p>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font size="+0"><span></span>Dalam tulisan ini,<span>  </span>sudah barang tentu tidak ada maksud menghapus jasa besar dari format ilmu kalam klasik yang sudah banyak memberikan muatan spritualitas<span>  </span>keagamaan umat Islam, tapi kritik epistemologi mau tidak mau harus dilakukan jika umat Islam ingin mengetahui berbagai penyimpangan yang terjadi dalam realitas<span>  </span>kehidupan Muslim dan<span>  </span>menjadikan agama sebagai salah satu alat memecahkan problem sosial yang sedang dihadapi. Perlunya pembenahan itu antara lain pada struktur epistemologi yang terkandung di dalamnya, sumber, metodologi dan keabsahan kebenaran yang telah didapatkan darinya. Untuk itu diperlukan pendekatan berbagai disiplin<span>  </span>ilmu-ilmu yang<span>  </span>lain, bahkan sikap dan pengalaman agama lain<span>  </span>untuk melihat lebih dekat agama kita sendiri.</font></span><span style="font-size:12pt;line-height:150%;"><font size="+0"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font size="+0"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font size="+0"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font size="+0"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font size="+0"> </font></span></font></p>
<h1><strong><font size="3"><font face="Times New Roman">BIBLIOGRAFI</font></font></strong></h1>
<p><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"><span>            </span></font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman"> </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Abdullah, Amin. 1995. “Aspek Epistemologi Filsafat Islam” dalam Irma Fatimah (ed). <em>Filsafat Islam,</em> Yogyakarta: LSFI, &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<em>Falsafah Kalam</em>, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- 2000. “Kajian Ilmu Kalam di IAIN menyongsong Perguliran Paradigma Keilmuan Keislaman Pada Era Milenium Ketiga” dalam <em>al-Jami’ah Journal of Islamic</em> <em>Studies</em>, No. 65/VI. Yogyakarta: IAIN Suka.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Asy’ary al Abu Hasan. 1965. <span> </span><em>Kitab al-Luma’ fi al-Rad ‘ala Zaig wa al-B</em>ida’, Kairo: tp. </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Asy’ary al Abu Hasan. 1977. <em>al-Ibanah ‘an Ushul al-Diniyyah</em>. Mesir: tp.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Azra, Azyumardi. 1999 <em>Konteks Berteologi Di Indonesia</em>, <em>Pengalaman Islam</em>, Jakarta: Paramadina.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Blackburn, Simon. 1994. <em>The Oxford Dictionary of Philosophy,</em> New York: Oxford University Press.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Brummer, Vincent. 1981. <em>Theology and Philosophical Inquiry: An Introduction</em>, London: The MacMillan Press Ltd.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Bucher, Justus. 1980. <em>Cherles Peirce’s Empirisme</em>, New York: Octagon Books.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Capps. H. Walter. 1995. <em>Religious Study: The Making of a Discipline</em>, Minneapolis: Augsburg Portres.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Degobar D. Runes. 1976. <em>Dictionary of Philosophy</em>, New Jarse:Littlefield, Adams co.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Hanafi, Hassan, t.t. <em>Dirasat Islamiyyah</em>. Kairo: Maktabah al-Anjilo al-Misriyyah.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Hasset D. 1868. <em>Epistemology for All</em>, Cork: The Marcier Press.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Hidayat, Komarudin. 1996. <span> </span><em>Memahami Bahasa Agama, Sebuah Kajian Hermeneutik</em>, Jakarta: Paramadina.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Jabbar, al-Ahmad. 1965. <em>Syarh al-Ushul al-Khamsah</em>, Kairo: Maktabah Wahbah.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Jabiry, al. 1990. <em>Bunyah al-‘Aql al-‘Araby</em>, Beirut: Markas Dirasah al-Waddah al-‘Arabiyyah.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Lakatos, Imre. 1970. “Falsification and the Metodology of Scientifc Research Programmes” dalam <em>Criticism and Growth of Knowledge</em> Imre Lakatos dan Alan Musgrave. London: Cambridge University Press. </font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Linbeck. 1984. <em>The Nature of Doctrine</em>. Philadelphia: Westminster Press.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Murphy, Nancey. 1990. <em>Theology i the Age of Scientific Reasoning</em>, Ithaca and London: Cornell University.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Nasution, Harun. 1972. <span> </span><em>Teologi Islam , Sejarah Analisa Perbandingan</em>, Jakarta: UI Press.</font></span><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Via JR Dan O. dalam AKM Adam. 1995. <em>What is Postmodernism Biblical Criticism</em>, Minniapolis:Fortress Press.</font></span><br />
<font face="Times New Roman"></p>
<hr SIZE="1" width="33%" align="left" /></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1" title="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Sebagaimana dikatakan <span> </span>Joseph. D. Hasset SJ. bahwa ada banyak ragam defenisi yang berkembang tentang pengertian epistemologi. Lihat Joseph<span>  </span>D. Hasset<em>. Epistemology For All</em>, (Cork: The Marcier Press, 1868), hal. 157. Defenisi tersebut diambil dari Ledger Wood “Epistemology” dalam Degobar D. Runes (ed) <em>Dictionary of Philosophy</em>, (New Jarse: Littlefied, Adams&amp;Co., 1976), hal. 94.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn2" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2" title="_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> DW. Hamlyn. “History of Philosophy” dalam Simon Blackburn. <em>The Oxford Dictionary of Philosophy</em>, (New York: Oxford Univ. Press. 1994), hal. 242-3.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn3" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3" title="_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> <em>Ibid</em>., hal. 243-3.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn4" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4" title="_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Amin Abdullah. “Aspek Epistemologi Filsafat Islam” dalam <em>Filsafat Islam</em>, Irma Fatimah (ed), (Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam, 1992), hal. 28.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn5" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5" title="_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> <em>Ibid</em>., hal. 35.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn6" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref6" title="_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Komaruddin Hidayat. <em>Memahami Bahasa Agama , Sebuah Kajian Hermeneutik</em><span>  </span>(Jakarta: Paramadina, 1996), hal. 6-7.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn7" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref7" title="_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[7]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Komaruddin Hidayat<em>. Op. cit</em>., hal. 23.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn8" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref8" title="_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[8]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> <em>Ibid.,</em> hal. 9.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn9" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref9" title="_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><em><span><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[9]</span></strong></span></span></em></span></a><font size="2"><font face="Times New Roman"><em> Ibid.</em>, hal. 241.</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn10" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref10" title="_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[10]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Harun Nasution<em>. Teologi Islam, Sejarah<span>  </span>Analisa Perbandingan</em> (Jakarta: UI Press, 1972), hal. 151.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn11" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref11" title="_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[11]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Abid al-Jabiry. <em>Bunyah al-‘Aql al-‘Araby</em> (Beirut: Markas Dirasah al-Waddah al-‘Arabiyah, 1990), hal. 15.</font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn12" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref12" title="_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[12]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Dalam logika klasik, dialektika berarti suatu metode diskusi tertentu dan cara tertentu dalam berdebat yang didalamnya ide-ide kontradiktif dan pandangan yang saling bertentangan dilontarkan. Masing-masing pandangan itu berupaya menunjukkan titik-titik kelemahan dan kesalahan lawannya berdasarkan pengetahuan dan preposisi-preposisi yang sudah diakui. Perbedaan dan pertentangan di kalangan mutakallimin ini (Mu’tazilah dan Asy’ariyah) pada dasarnya lebih disebabkan faktor ideologis mazhabi ketimbang pengetahuan epistemologi yang berbeda.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn13" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref13" title="_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[13]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> <em>Ibid</em>., hal. 70.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn14" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref14" title="_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[14]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Ada 3 (tiga) tiga yang berkaitan dengan hubungan antara<span>  </span>lafadz dan makna, yaitu: <em>pertama</em>, monisme yang berpendapat bahwa makna dengan lafadz atau bentuk teks merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, Dengan kata lain tidak ada kemungkinan perbedaan pendapat dalam memahamai teks karena antara teks dan maknanya adalah sesuatu yang manunggal datu kesatuan<em>.<span>  </span>Kedua</em>, aliran dualisme yang mengatakan<span>  </span>bahwa antara lafadz dan makna dapat dipisahkan. Dengan kata lain bahwa masing-masing mempunyai eksistensi tersendiri, meskipun ada hubungan tetapi hubungan tersebut tidaklah begitu kompleks. <em>Ketiga:</em><span>  </span>aliran pluralisme yang mengatakan bahwa hubungan antara lafadz dan makna sangat kompleks. sebuah teks menurut aliran ini merupakan konstruk meta-fungsional yang terdiri dari makna ideasional, interpersonal dan tekstual yang kmpleks. Dengan kata lain, bukan hanya masing-masing makna dan bentuk mempunyai eksistensi tersendiri, tapi hubungan antara keduanya bersifat amat kompleks. (lihat Amin Abdullah. “Kajian Kalam&#8230;&#8230;&#8230;.”dalam <em>al-Jami’ah</em>, no. 65/vi/2000, hal. 87).</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn15" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref15" title="_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[15]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Vincent Brummer. <em>Theology and Philosophical Inquiry: An Introduction</em> (London: The MacMillan Press Ltd., 1981), hal. 172.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn16" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref16" title="_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[16]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Abd al-Jabbar Ahmad. <em>Syarh al-Ushul al-Khamsah,</em> Abd. al-Karim ‘Usman (ed), (Kairo: Maktabah Wahbah, 1965), hal. 132-3.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn17" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref17" title="_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[17]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Abu Hasan al-Asy’ari. <em>Kitab al-Luma’ fi al-Rad ‘ala Zaig wa al-Bida’</em> (Kairo: tp., 1965), hal. 76.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn18" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref18" title="_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[18]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Al-Asy’ari. <em>al-Ibanah ‘an Ushul al-Diniyah</em>, Fauqiyah Husein Mahmud (editor), (Mesiar: tp., 1977), hal. 51.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn19" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref19" title="_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[19]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> al-Asy’ary. <em>Luma</em>’., hal. 57 dan 70.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn20" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref20" title="_ftn20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[20]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> HM. Amin Abdullah” Kajian Ilmu Kalam di IAIN” hal. 85.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn21" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref21" title="_ftn21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[21]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Nancey Murphy. <em>Theology in The Age of Scientific Reasoning</em> (Ithaca and London: Cornell University Press, 1990), hal. 87.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn22" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref22" title="_ftn22"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[22]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Walter H. Capps. <em>Religious Study: The Making of a Discipline</em> (Minneapolis: Augsburg Portress, 1995), hal. 331.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn23" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref23" title="_ftn23"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[23]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Lihat Justus Bucher. <em>Charles<span>  </span>Peirce’s Empiricism</em> (New York: Octagon Books, 1980), hal. 38-40. </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn24" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref24" title="_ftn24"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[24]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> M. Amin Abdullah: “Kajian Ilmu Kalam Di IAIN Menyongsong Perguliran Paradigma Keilmuan Keislaman Pada Era Milenium Ketiga” dalam<span>  </span><em>Al-Jami’ah, Journal of Islamis Studies</em>, No 65, (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 2000), hal. 84-85.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn25" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref25" title="_ftn25"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[25]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> M. Amin Abdullah, Al-Jami’ah, <em>Op. Cit</em>. hal. 86.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn26" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref26" title="_ftn26"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[26]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Amin Abdullah<em>. Falsafah Kalam</em> (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), hal. 89.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn27" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref27" title="_ftn27"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[27]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> <em>Ibid</em>., hal. 49.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn28" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref28" title="_ftn28"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[28]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Hassan Hanafi. <em>Dirasat Islamiyyah</em> (Kairo: Maktabah al-Anjilo al-Misriyyah, tt.), hal. 205.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn29" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref29" title="_ftn29"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[29]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Hassan Hanafi: “From Dogma o Revolution”, yang isinya merupakan resume karyanya, <em>Minal ‘aqidah ila</em> <em>al-Tsauroh, Muhawalah li I’adat Bina i al-‘Ilm Ushul al-Diin</em>, 5 Jilid.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn30" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref30" title="_ftn30"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[30]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Walterr H. Capps. <em>Op. Cit</em>., hal. 331.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn31" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref31" title="_ftn31"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[31]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Nancey Murphy.<em> Op. Cit</em>. hal. 201.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn32" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref32" title="_ftn32"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[32]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> <em>Ibid</em>., hal. 202.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn33" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref33" title="_ftn33"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[33]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Nancey Murphy<em>. Op. cit</em>. hal. 202.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn34" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref34" title="_ftn34"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[34]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Linbeck. <em>The nature of Doctrine</em> (Philadelphia: Westminster Press, 1984), hal. 34.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn35" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref35" title="_ftn35"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[35]</span></span></span></span></a><font size="2"><font face="Times New Roman"> Dalam pandangan Murphy, karya-karya George Lindbeck dan Ronal Thienmann dikategorikan <em>posmodern.</em></font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn36" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref36" title="_ftn36"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[36]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Amin Abdullah. <em>Falsafah Kalam</em>. hal. 99.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn37" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref37" title="_ftn37"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[37]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Konsep ini pada awalnya merupakan penjelasan Nancy Murphy terhadap keyakinan Kristen. lihat Nancey Murphy<em> Theology&#8230;&#8230;</em> hal. 203.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn38" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref38" title="_ftn38"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[38]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Azyumardi Azra. <em>Kontek Berteologi di Indonesia, Pengalaman Islam</em> (Jakarta: Paramadina, 1999), hal. 16.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn39" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref39" title="_ftn39"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[39]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Lindbeck<em>. Op. cit</em>. hal. 64-66.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn40" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref40" title="_ftn40"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[40]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Imre Lakatos “Falsification and the Methodology of Scientific Research Programmes” dalam <em>Criticism and Growth of Knowledge</em>, Imre Lakatos dan Alan Musgrave (ed) (London: Cambridge University Press, 1970), hal. 132.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn41" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref41" title="_ftn41"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[41]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Dan O. Via JR. (ed) dalam AKM Adam, <em>What is Postmodern Biblical Criticism</em> (Minniapolis: Fortress Press, 1995) hal. vii.</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sangkot.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sangkot.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sangkot.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sangkot.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sangkot.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sangkot.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sangkot.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sangkot.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sangkot.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sangkot.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sangkot.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sangkot.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sangkot.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sangkot.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sangkot.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sangkot.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangkot.wordpress.com&amp;blog=1734808&amp;post=14&amp;subd=sangkot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangkot.wordpress.com/2007/11/08/ilmu-kalam-sebuah-kritik-epistemologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1afb08087b8de1abf9227a701157085a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sangkot</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Monoteisme dan Dialog Agama</title>
		<link>http://sangkot.wordpress.com/2007/11/01/monoteisme-dan-dialog-agama/</link>
		<comments>http://sangkot.wordpress.com/2007/11/01/monoteisme-dan-dialog-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Nov 2007 08:04:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangkot</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangkot.wordpress.com/2007/11/01/monoteisme-dan-dialog-agama/</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan Sejak awal, Islam telah menjadi suatu agama sekaligus sebagai sebuah  peradaban yang senantiasa bersentuhan dengan agama dan peradaban lain. Dalam pandangan Islam, manusia sejak lahir dipandang suci. Dengan kesuciannya itu manusia dianugerahi sebuah kemampuan dan kecenderungan untuk mendapatkan kebenaran (agama). Hal ini kemudian menjadikan manusia itu mampu mengetahui Tuhan. Kemampuan dan kecenderungan ini pulalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangkot.wordpress.com&amp;blog=1734808&amp;post=10&amp;subd=sangkot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';"><a href="http://sangkot.files.wordpress.com/2007/11/sangkot-1.jpg" title="sangkot-1.jpg"><img src="http://sangkot.files.wordpress.com/2007/11/sangkot-1.thumbnail.jpg" alt="sangkot-1.jpg" /></a></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Pendahuluan</span></h3>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Sejak awal, Islam telah menjadi suatu agama sekaligus sebagai sebuah<span>  </span>peradaban yang senantiasa bersentuhan dengan agama dan peradaban lain. Dalam pandangan Islam, manusia sejak lahir dipandang suci. Dengan kesuciannya itu manusia dianugerahi sebuah kemampuan dan kecenderungan untuk mendapatkan kebenaran (<em>agama</em>). Hal ini kemudian menjadikan manusia itu mampu mengetahui Tuhan. Kemampuan dan kecenderungan ini pulalah yang disebut dengan <em>hanif.</em> Orang-orang <em>hanif</em> pada era berikutnya dipandang sebagai orang yang berpegang teguh kepada paham monoteisme. Dalam al-Qur’an disebutkan<span>  </span>manusia <em>hanif</em> adalah identik dengan nabi Ibrahim sebagai bapak tiga agama besar dunia, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam. Tiga agama ini mengklaim dirinya sebagai agama monoteistik. Hanya saja dalam sejarahnya yang panjang, konsep monoteisme masing-masing agama ini mengalami pasang surut, tidak jarang yang satu mengatakan bahwa yang lain telah keliru, kemudian<span>   </span>berusaha menunjukkan bahwa ia adalah satu-satunya agama yang masih murni bertuhan satu. Dari pembacaan sekilas dapat diasumsikan bahwa<span>   </span>perselesihan tersebut muncul karena masing-masing penganut agama tersebut selalu mengabaikan nilai-nulai spiritual dari agama tersebut<a name="_ftnref1" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn1" title="_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[1]</span></span></span></span></a> dan lebih banyak menonjolkan aspek formalitasnya, ditambah lagi dengan dialog yang jarang dilakukan secara wajar.</span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Persaksian KepadaTuhan<span> </span></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';"><span></span></span><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Kesadaran kepada eksistensi Tuhan, yang merupakan inti seluruh agama, bukanlah<span>  </span>hasil perintah<span>  </span>sebuah keputusan dan kesepakatan bersama, atau kepercayaan yang harus diikuti. Pengakuan itu merupakan hasil penerimaan manusia secara totalitas lewat sebuah persaksian yang abadi. Tuhan adalah <em>al-Haqq al Mubin</em>, yang “Benar lagi<span>  </span>Nyata” , Dia bisa disaksikan,<span>  </span>dan kita sendiri bisa membuktikanNya.<a name="_ftnref2" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn2" title="_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[2]</span></span></span></span></a> Memang kebanyakan manusia<span>  </span>selalu lalai<span>   </span>untuk mengingat suatu masa<span>  </span>tertentu ketika Tuhan mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka pada suatu alam yang disebut <em>pakta primordial</em>, ketika, secara fisik, mereka dalam kandungan seorang ibu. Saat (waktu) tersebut pada dasarnya<span>  </span>juga merupakan sebuah tempat (<em>space</em>) dan merupakan bentuk<span>  </span>waktu (<em>time</em>).<a name="_ftnref3" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn3" title="_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[3]</span></span></span></span></a><span>  </span>Pertanyaan yang diajukan Tuhan waktu itu adalah dalam bentuk <em>interro-negative</em>, yaitu “bukankah aku ini Tuhanmu ?” Mereka menjawab, “Betul, Engkau Tuhan kami”.<a name="_ftnref4" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn4" title="_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[4]</span></span></span></span></a> Situasi dan kondisi itu sebenarnya menetapkan kesadaran kita bahwa yang demikian merupakan sebuah bentuk pembuktian, bahkan perjanjian (transaksi) dengan Tuhan untuk menjalani kehidupan ini. </span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoBodyText2"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';"></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2">Kaum Muslimin memulai kesadaran mereka kepada Tuhan<span>  </span>lewat sebuah persaksian<span>  </span>fundamental,<span>  </span>yang diawali<span>  </span>dengan sebuah ungkapan <em>negasi</em>, seperti yang ditetapkan pada bagian pertama kesaksian (<em>syahadah</em>). Syahadah adalah sebuah ritus yang paling dasar yang karenanyalah<span>   </span>seseorang dikatakan masuk ke dalam Islam secara formal: Syahadah itu berbunyi “Tiada Tuhan Kecuali Allah”, Muhammad Utusan Allah, Allah adalah Tuhan Yang Mutlak dan tidak terikat oleh sesuatu, Dia tak berawal dan tidak berakhir, Dialah Tuhan Yang Esa, Tuhan yang tak dapat diketahui lewat sebuah pencarian fisik. Akan tetapi kaum Muslimin<span>  </span>bisa mengetahui karena Dia sendiri mengenalkan diriNya lewat wahyu yang diturunkanNya, lewat nama-namaNya dan lewat karyaNya, dalam Alquran disebutkan:<span>  </span>kemuliaan atas Tuhanmu, Tuhan Yang Maha Kuasa atas sesuatu, yang kepadaNya kita menyerahkan diri.</font><a name="_ftnref5" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn5" title="_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[5]</span></span></span></span></a><font size="2"><span>  </span></font></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoBodyText2"><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"><span></span></font></span><font size="2"><em><span style="font-family:'Book Antiqua';">Allah,</span></em><span style="font-family:'Book Antiqua';"> sebagai sebuah nama, dibangun<span>  </span>atas kontraksi artikel defini<span>  </span>‘al’ dan kata ‘ilah’. Jadi seseorang harus mengartikannya,<span>  </span>sebagai ‘Tuhan’. Kata ‘Tuhan’ (<em>ilah</em>) adalah dibentuk dalam nama umum, akan tetapi tidak ada Tuhan kecuali Dia. “Tuhanmu adalah Tuhan yang jauh disana dimana tidak ada Tuhan selain Dia.<a name="_ftnref6" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn6" title="_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[6]</span></span></span></span></a><span>  </span>Pernyataan tentang keesaan Tuhan<span>  </span>bisa ditemukan<span>  </span>secara keseluruhan dalam sebuah rumusan yang terdapat dalam kalimat <em>tahlil</em> yang berbunyi <em>la ilaha illallah</em>. Ia yang hanya<span>  </span>ditulis dengan empat huruf arab <em>Allah</em>. Tidak ada yang disembah kecuali Tuhan yang disebut Allah, satupun tidak ada yang menyerupaiNya dan tak satupun nama lain yang sama denganNya, jadi nama itu bukan sebuah derivasi dari akar kata manapun.<a name="_ftnref7" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn7" title="_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[7]</span></span></span></span></a> </span></font></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoBodyText2"><font size="2"><span style="font-family:'Book Antiqua';"></span></font><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2">Abd al Haqq Isma’il Guiderdoni, seorang Perancis pernah mengajukan pertanyaan:<span>  </span>apakah kita<span>  </span>juga boleh menerjemahkan<span>  </span>kata <em>Allah</em><span>  </span>sebagai bahasa Arab yang berarti Tuhan<span>  </span>ke dalam bahasa Perancis atau bahasa Eropa lainnya, seperti halnya kita menterjemahkan teks-teks suci Islam yang lain,<span>  </span>khususnya Alquran?. Menurutnya, sejak awal, kaum Muslimin hanya menganggap dan percaya kepada <em>Allah</em>, sementara orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berbahasa Perancis percaya kepada Tuhan yang mereka sebut (<em>Dieu</em>),<span>  </span>muncul persoalan seolah-olah<span>  </span>ada dua Tuhan yang berbeda.</font><a name="_ftnref8" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn8" title="_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[8]</span></span></span></span></a><font size="2"> Allah bukan semata Tuhan orang Islam saja, tertutup untuk orang-orang seperti<span>  </span>Yahudi dan Kristen, akan tetapi satu Tuhan yang Tunggal, Tuhan dari semua. Dia dicintai oleh seluruh umat Islam, seluruh orang Yahudi dan Nasrani. Dia bukan hanya Tuhan keturunan nabi Ibrahim, dan tertutup untuk orang penganut tradisi lain seperti agama-agama Asia asingnya, tetapi juga<span>  </span>Tuhan dari semua keturunan nabi Adam. “Janganlah kamu menyembah<span>  </span>dua Tuhan”. Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka hendaklah kepadaKu saja kamu takut, dan kepunyaanNyalah segala apa yang ada di langit dan di bumi dan untukNyalah keta’atan itu selama-lamanya, maka mengapa kamu bertaqwa kepada selain Allah ?”.</font><a name="_ftnref9" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn9" title="_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[9]</span></span></span></span></a></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoBodyText2"><span style="font-family:'Book Antiqua';"></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"><em>Allah</em> adalah bahasa arab<span>  </span>berarti Tuhan Yang Esa. Semua agama menuju kepadaNya. Dalam waktu yang bersamaan orang-orang Kristen yang berbahasa arab menemukan kembali nama ini<span>  </span>di dalam terjemahan <em>Bibel</em> dan <em>Injil </em>yang berbahasa arab. Memang demikian,<span>  </span>kaum Muslimin lebih senang untuk mengucapkan nama Tuhan mereka dalam bahasa arab, dan Tuhan sendiri membuktikannya<span>  </span>dalam wahyu Alquran.</font><a name="_ftnref10" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn10" title="_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[10]</span></span></span></span></a><font size="2"> Juga kita dapat mendengar kekuatan nama Tuhan dengan membuat sebuah bentuk khusus yang ia disusun dengan dua huruf <em>lam</em> (<em>tasydid</em>) yang secara tegas diucapkan. Yang jelas, nama Tuhan itu bukan sebuah nama yang serupa dengan nama lainnya.</font><a name="_ftnref11" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn11" title="_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[11]</span></span></span></span></a></span></p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoBodyText2"><span style="font-family:'Book Antiqua';"></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2">Seperti yang disebutkan dalam ajaran Islam, “konsep keesaan Tuhan adalah unik”.<span>   </span>Yahudi, Kristen dan Islam dalam hal tertentu<span>   </span>bukanlah sebagai ‘agama-agama monoteistik’ karena<span>  </span>tidak satupun darinya yang secara tegas untuk melihat hanya satu Tuhan, kecuali melihat<span>  </span>bahwa ada perbedaan mengenai Tuhannya sendiri yang berbeda dengan Tuhan<span>  </span>orang lain, terutama ketika masing-masing pemeluk agama ini nenpertahankan konsep keesaannya secara emosional. Model pemikiran seperti ini tidak dikatakan sebagai ajaran <em>monoteistik</em> akan tetapi hanya salah satu bentuk <em>monolatrie</em>, sebuah bentuk pemujaan atas keesaan Tuhan.</font><a name="_ftnref12" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn12" title="_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[12]</span></span></span></span></a><font size="2"> Padahal Agama Yahudi, Nasrani dan agama<span>  </span>Islam<span>  </span>dapat dikatakan agama-agama monoteis, sebab<span>  </span>semuanya menyembah Tuhan yang sama dari ketiga agama tersebut. Dalam<span>  </span>sejarah agama-agama, kelompok agama yang satu bisa saja menyerang beberapa teolog agama tertentu, bahkan dalam satu agama sekalipun. Masing-masing kelompok ingin menunjukkan kemurnian agamanya, sementara yang lain dipandang sesat. Hugh Goddard, seorang Kristiani, ahli teologi Islam dari Universitas Nottingham<span>  </span>mengatakan terjadinya hubungan yang tidak harmonis serta<span>  </span>salah paham antara Kristen dan Islam, bahkan satu agama menjadi ancaman bagi agama lainnya, adalah<span>  </span>disebabkan suatu kondisi yang ia sebut sebagai “standard ganda” (double standards). Artinya oarang-orang Kristen dan kaum Muslimin selalu menerapkan ukuran-ukuran yang berbeda untuk dirinya, yang biasanya ukuran (standard) ideal dan normatif untuk agama sendiri sedangkan eterhadap agama lai, menggunakan standard lain, yang lebih bersifat historis dan realistik.</font><a name="_ftnref13" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn13" title="_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[13]</span></span></span></span></a><font size="2"> Jadi dalam konteks keesaan Tuhan tadi, pemahaman kita terhadap<span>  </span>Tuhan itu sungguh benar karena dipandang sebagai pemberian langsung Tuhan, sementara pemahaman lain adalah pemahaman yang minimal samar-samar, kalau tidak dikatakan salah, sebab merupakan pemikiran manusia saja. Kondisi tersebut lebih diperburuk lagi ketika para ahli sejarah agama-agama hanya melihat masalah<span>  </span>di atas dari perspektif akademik<span>   </span>semata, kemudian<span>  </span>hanya sebatas menganalisis perbedaan pandangan itu dan bukan memberikan penjelasan yang mendalam terhadap berbagai point tertentu. </font></span></p>
<p><span style="font-family:'Book Antiqua';"></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2">Tidak jarang pula ditemukan bahwa kelompok penganut suatu agama tertentu<span>  </span>tidak<span>  </span>menempatkan diri mereka pada tempat yang sebenarnya, melainkan hanya sebagai sebuah opposan semata, menyiapkan keterangan-keterangan yang bersifat metafisik, yang dipandang<span>  </span>merupakan landasan dasar persaudaraan antarumat manusia.<span>  </span>Inilah posisi yang ditunjukkan oleh<span>  </span>paham idealisme dunia Timur,<span>  </span>dimana seseorang dapat memecahkan masalah tersebut<span>  </span>dengan menyatukan diri dengan Realitas Ketuhanan<span>  </span>lewat berbagai pengalaman spritual, atau diskursus teoritis. Tentu saja hal ini terbatas, bahkan dangkal sekali,<span>  </span>karena agenda ini dilakukan hanya sebatas membahas rencana Tuhan saja. Di pihak lain, muncul lagi sekelompok masyarakat yang ketat menggunakan tradisi berfikir formal, tekstual, yang sering<span>  </span>juga menghilangkan nilai-nilai spritual seperti yang dikehendaki idealisme dari Timur tadi. Idealnya ada keseimbangan antara tradisi-tradisi diatas dalam melihat kebenaran Tuhan yang luas itu.</font></span><strong><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"><span> </span>Spritualitas Islam</font></span></strong><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2">Bentuk kesadaran ideal kepada Tuhan sesungguhnya adalah satu bentuk penolakan ganda terhadapnya. Spritualitas Islam telah menciptakan sebuah sistem untuk memperdalam dan menyatukan berbagai pemikiran yang bermacam-macam itu<span>  </span>ke dalam <em>pemikiran ultim</em> kesadaran kita<span>  </span>lewat sebuah aktivitas <em>intuitif</em> yang pada dasarnya dimiliki semua orang.<span>   </span>Masing-masing orang bisa mengembangkan sesuai dengan kemampuannya. bisa<span>  </span>Ada dua aspek yang penting dalam proses penemuan kesadaran ini, yaitu akal dan intelek. Intelek di sini<span>  </span>lebih berhubungan dengan apa yang disebut dengan akal aktif. Jika akal kita mengajak kita kepada sebuah keraguan terhadap aspek ketuhanan, maka intelek yang aktif atas itupun justru membawa kita<span>  </span>kepada ketidaktahuan terhadap <em>realitas ultim</em> itu, penuh keraguan, atau ia akan menuntut sebuah pembuktian<span>  </span>metafisik, yang semestinya hal ini hanya bisa terjadi pada penglihatan yang sakit.</font><a name="_ftnref14" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn14" title="_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[14]</span></span></span></span></a><font size="2"> ”Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu<span>  </span>termasuk orang-orang yang ragu”.</font><a name="_ftnref15" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn15" title="_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[15]</span></span></span></span></a><font size="2"> </font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"><span>                </span>Eksistensi Tuhan itu sulit dilihat bila kita mengunakan pendekatan rasional semata. Penjelasannya sangat memerlukan sebuah penjelasan intuitif lewat proses kontemplasi yang benar. Meskipun demikian, di dalamnya terdapat kesulitan yang bersifat paradoks untuk melihat berbagai bukti dan justifikasi, sebab masing-masing mereka memberikan alasan yang kuat<span>  </span>dan cenderung untuk tidak bisa dilihat oleh<span>  </span>masing-masing kelompok lain. Hali ini lebih kompleks lagi ketika masing-masing<span>  </span>kelompok<span>   </span>lebih memusatkan perhatian mereka<span>  </span>kepada berbagai perubahan yang aktual (<em>aksidensial</em>) bukan kepada<span>  </span>yang tetap (<em>substansial</em>). Cara seperti yang demikian dapat membuat penglihatan kita semakin tumpul dan kabur terhadap <em>Realitas</em> yang sebenarnya, kita selalu lebih suka kepada melihat perubahan ‘bentuk’<span>  </span>yang akhirnya menimbulkan berbagai variasi dalam pikiran kita.</font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"><span>                </span>Setelah melihat pendekatan intelektual di atas, para pelancong yang berada di atas gerbong<span>  </span>kehidupan spritualpun juga menemukan tembok tebal yang tinggi yang menutupi<span>  </span>misteri ketuhanan,<span>  </span>tidak bisa ditangkap<span>  </span>oleh orang-orang yang<span>  </span>senantiasa menghendaki<span>  </span>jawaban<span>  </span>pasti, seperti pernyataan<span>  </span>“ia’ atau ‘tidak’. Misteri itu hidup<span>   </span>dalam dua aspek yang berdampingan, <em>logik</em> dan <em>bertentangan</em>, <em>transendent absolut</em> dan i<em>mmanent. </em><span> </span>Di pihak lain, Tuhan sebenarnya jauh dari semua bentuk definisi dan pemahaman, Ia berbeda dengan alam yang sesungguhnya, yang kita tidak bisa menggambarkanNya.<span>  </span>Realitas ketuhanan berada jauh diatas sifat-sifat yang dilukiskanNya. Itulah <em>tanzih</em>, yang artinya sebuah pernyataan<span>  </span>bahwa diriNya tidak bisa dibandingkan dengan yang lain.</font><a name="_ftnref16" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn16" title="_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[16]</span></span></span></span></a><font size="2"> Dalam hal tertentu Ia transendent, Tuhan tak bisa dikhayalkan ibarat sebuah <em>ide </em>atau <em>konsep</em> belaka, tidak pula terisolir dari dunia yang mana Ia juga berbeda secara mutlak dengannya. KehadiranNya di dunia adalah dalam bentuk yang misteri, dan dalam bentuk khusus. Ia dekat dengan manusia. Ia tak bisa dibandingkan, Dia memperkenalkan diriNya lewat Wahyu, dengan menggunakan nama-nama, kualitas dan sifat. Ini disebut dengan <em>tashbih</em>, sebuah pernyataan tentang kemiripan sifat-sifat Tuhan dengan makhluknNya. Alquran berkali-kali menyampaikan pernyataan tentang adanya perbedaan Tuhan<span>  </span>dengan selain Dia, seperti<span>  </span>“tidak ada satupun yang serupa denganNya” atau Dia hanya dilukiskan sebagai Tuhan yang maha mendengar dan yang maha melihat”.</font><a name="_ftnref17" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn17" title="_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[17]</span></span></span></span></a><font size="2"><span>  </span>Pandangan yang satu dan lainnya tidak bisa menjamin tentang misteri kemutlakan Tuhan itu, dan kita harus pula berhati-hati bahwa<span>  </span>kadang-kadang ditemukan<span>  </span>paradoksal, yaitu terbuka kemungkinan untuk mengetahuiNya. Penolakan dan affirmasi mengharuskan orang yang sedang berjalan menujuNya untuk meninggalkan sifat-sifat mental gampang menerima dan gampang menolak.<span>    </span>Pengetahuan kita<span>   </span>yang terbatas dan bersifat lokal,<span>  </span>bisa dijadikan sarana sampai kepada pengetahuan yang lebih tinggi, apabila kita terbuka (inklusif) akan berbagai perubahan akan informasi lain.<span>  </span>Jika tidak, kita hanya terjebak kepada kebenaran semu yang sering dianggap sebagai kebenaran hakiki.</font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"><span>                </span>Tuhan Yang Maha Esa (<em>al-Wahid</em>) bukan kesatuan berbagai unsur, sesuai dengan sebuah pilihan, seperti satu pilihan yang harus ditempatkan berhadapan dengan pilihan yang lain, atau bagian darinya. Tuhan bukanlah “satu” dalam perspektif angka. Al-Qur’an menunjukkan bukti yang mengagumkan bahwa<span>  </span>“tiada pembicaraan rahasia<span>  </span>antara tiga orang, melainkan Dialah yang keeempatnya, dan tiada pembicaraan lima orang melainkan Dialah yang keenamnya, dan tiada pula pembicaraan antara jumlah<span>  </span>yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka dimanapun mereka berada”.</font><a name="_ftnref18" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn18" title="_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[18]</span></span></span></span></a><font size="2"> Tuhan bukanlah yang ketiga dari tiga, atau yang kelima dari lima. Dia jauh dari jumlah serial angka-angka sebab satuNya adalah kualitas realitas dalam kerangka metafisik.</font><a name="_ftnref19" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn19" title="_ftnref19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[19]</span></span></span></span></a></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"><span>                </span>Kita tidak bisa langsung menetapkan<span>   </span>esensi Ketuhanan atas dasar<span>    </span>formulasi teologis<span>  </span>kita semata, sebagai misteri yang bisa dirumuskan oleh institusi tertentu. Tuhan tersembunyi,<span>  </span>membuka dan menampakkan<span>  </span>diriNya lewat wahyu, berkat kasih sayangNya, Dia menjadikan kita<span>  </span>supaya<span>  </span>bisa mempersiapkan diri di dunia ini dalam rangka untuk bertemu dihari kemudian, dan bukan menempatkan diri kita untuk hidup bersenang-senang dalam dunia yang penuh dengan tipu daya, kemudian menggambarkan Tuhan dengan khayalan yang dianggap pasti.<span>  </span>Seharusnya kita memiliki pengetahuan yang lebih tinggi tentang Tuhan, yang<span>  </span>Dia menyebut diriNya sebagai<span>  </span>tercantum dalam hadis nabi: ”Aku sangat dekat dengan pengetahuan hambanku yang<span>   </span>dekat kepadaku”.</font><a name="_ftnref20" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn20" title="_ftnref20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[20]</span></span></span></span></a><font size="2"><span>  </span>Pengetahuan tentang Tuhan merupakan sebuah <em>produk</em> yang terbatas karena ia juga hasil pemikiran terbatas, bahkan terdistorsi, penuh kepalsuan, kita begitu sulit menghindari kepalsuan terhadap apa yang sesungguhnya ada pada Tuhan. Tuhan yang jauh di sana, jika hanya ia dipandang sebagai sebuah <em>ide,</em> justru bisa membawa bencana secara cepat, yaitu akan terwujud dalam bentuk sebuah berhala. Oleh sebab itu, menurut Al-Qur’an, Tuhan yang kau temui dalam sebuah penglihatan bukan Dia sesungguhnya”.</font><a name="_ftnref21" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn21" title="_ftnref21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[21]</span></span></span></span></a><font size="2"> Seorang Muslim harus menyadari betul kenyataan ini, bahkan dalam sholat hal ini berulang kali diucapkan dalam takbir, yaitu<em> Allahu Akbar </em>(Allah Maha Besar). </font></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Abrahamic Religion (Yahudi, Kristen dan Islam)<span>                </span></span></strong><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Nabi Ibrahim, bapak tiga agama besar dunia, yaitu: Yahudi, Kristen dan Islam,<span>  </span>selalu mengajarkan<span>  </span>kepada kita bahwa Tuhan adalah zat yang maha mulia dan sebagai zat yang bisa dihampiri dengan pendekatan spritualitas manusia. Perintah<span>  </span>korban untuk menyembelih<span>  </span>anaknya Isma’il, seperti yang terjadi pada masa lalu, merupakan<span>  </span>perintah Tuhan yang pada dasarnya juga perintah terhadap semua keturunannya, baik<span>  </span>dari kaum Yahudi, Nasrani dan umat Islam agar merubah hawa nafsu keduniaannya dengan melaksanakan pengurbanan apa yang sangat dicintainya, termasuk kehidupannya, sebagai cikal bakal dari hawa nafsu “sebagai pendorong semangat kejahatan”. Sesungguhnya kebanyakan dari keturunan<span>  </span>Ibrahim<span>  </span>telah lupa dan lalai terhadap semangat pengorbanan spritual yang mulia itu, dan ini bertentangan dengan substansi kejadian ini. Mereka saling bertempur<span>  </span>antara sesama mereka<span>  </span>demi sebuah<span>  </span>penghormatan eksklusif (kelompok) dari keturunannya dengan bentuk pertikaian antar satu dengan lainnya. Mereka yang melakukan pertikaian ini justru mereka yang mengklaim penganut monoteisme. Akan tetapim moneteisme yang kering dari nilai spritual. Pentingnya<span>  </span>aspek spritual dalam kasus ini begitu saja terabaikan demi kepentingan keutuhan sebuah kelompok, demi pertengkaran yang tak berarti dan demi kedudukan yang lebih tinggi pada tempat tertentu, juga demi kekejaman untuk kepentingan tertentu.</span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2">Seseorang<span>  </span>selalu melakukan sesuatu untuk tujuan kembali kepada spritual, atau secara tepatnya, kepada hal-hal yang spritual,<span>  </span>sebab Tuhan yang tak pernah hilang atau muncul kembali dalam bentuk atau cara tertentu, berdiam secara tetap dalam ingatan<span>  </span>murni kita. Tapi<span>  </span>harus juga diketahui bahwa ada kritik<span>  </span>dari posisi kembali ini.<span>  </span>Di satu pihak muncul<span>    </span>sebuah pendekatan eksklusif atas dasar teks<span>  </span>agama, di pihak lain, orang memperkirakan bahwa tak ada upaya yang bisa ditempuh untuk melakukan sesuatu demi maksud spritual, atau seseorang bisa saja menganggap dirinya telah mendapatkan kesucian diri<span>  </span>secara mudah<span>  </span>kemudian dipublikasikannya dalam sebuah<span>  </span>komunitas, jadi identitas yang benar-benar tidak<span>  </span>dibangun kecuali oleh<span>  </span>hubungan intim dengan Tuhan. Tapi agama-agama lain pada waktu besamaan berbeda, sehingga secara sederhana bisa disimpulkan bahwa dari mereka pasti salah satunya ada yang keliru jalan. Apalagi, aktivitas spritual yang demikian dapat dilakukan lewat penggabungan<span>  </span>berbagai dogma atau ritus-ritus dalam tradisi sinkretis yang wataknya bervariasi, disesuaikan dengan kapasitas individu, diasyikkan oleh sebuah kebebasan dalam berkhayal kemana-mana.</font><a name="_ftnref22" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn22" title="_ftnref22"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[22]</span></span></span></span></a><font size="2"> Karena dalam waktu bersamaan bahwa masing-masing agama tidak sama, maka kita bisa menyimpulkannya bahwa mereka, dengan cara demikian, berada dalam kategori<span>  </span>relatif, dimana<span>  </span>seseorang bisa saja mendapatkannya sesuai dengan apa yang dipahaminya.. Demikian pula karena Tuhan bersifat absolut,<span>  </span>seseorang tidak bisa menjadikannya sebagai alasan untuk kemutlakan sebuah agama, atau kemutlakan sebuah pemahaman kendatipun yang demikian diperoleh lewat usaha spritual.<span>  </span></font></span><strong><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2">Monoteisme dan Keadilan</font></span></strong><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2">Pada satu sisi, kehausan akan sebuah keadilan selalu terabaikan<span>   </span>oleh aktivitas masyarakat, yang bisa saja sampai kepada sebuah peperangan yang kebanyakan orang menganggapnya sebagai perang suci.</font><a name="_ftnref23" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn23" title="_ftnref23"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[23]</span></span></span></span></a><font size="2"> Di pihak lain, kehausan<span>  </span>akan kesenangan<span>  </span>individu bisa<span>  </span>sampai kepada<span>  </span>sebuah kedamaian, dimana orang juga memandangnya suci.<span>  </span>Di sini,<span>  </span>orang telah berkali-kali lupa bahwa tidak ada<span>  </span>kedamaian tanpa keadilan, dan tidak ada keadilan tanpa<span>  </span>pengetahuan tentang kebenaran. Dua sikap ini dapat menjadi piranti atas sebuah perspektif yang belum pasti.<span>  </span>Kebenaran dan keadilan<span>  </span>bukanlah milik kita,<span>  </span>sebab kebenaran dan keadilan yang kita miliki (<em>al-Haqq al-‘Adl</em>)<span>  </span>itu pada dasarnya adalah nama-nama Tuhan. </font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2">Tanpa<span>  </span>kelahiran kembali ajaran spritual dalam diri setiap orang<span>  </span>yang sudah banyak melakukan kesalahan dan tidak akan bisa dibebankan kepada orang lain, tidak akan ada keadilan, kecuali hanya catatan-catatan khayal berdasarkan laporan-laporan singkat belaka. Tanpa keadilan, tidak akan ada kedamaian, ia tidak lebih dari <span> </span>sebuah negara tanpa perang, berlangsung hanya sekejap berdasarkan persetujuan-persetujuan tertentu.</font><a name="_ftnref24" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn24" title="_ftnref24"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[24]</span></span></span></span></a><font size="2"> Jika kaum Yahudi, kaum Nasrani dan kaum Muslimin secara bersama tidak mampu<span>  </span>untuk memberhentikan<span>  </span>berbagai konflik yang masing-masing saling menuntut “keyakinan” mereka, hal ini benar adanya, karena mereka<span>  </span>telah kehilangan pemikiran spritual mereka, tentang Kebenaran, Keadilan dan Kedamaian. Mereka tidak lagi menjadi pengikut setia<span>  </span>pesan universal agama mereka. Ini baru tarap pencarian Tuhan, Kebenaran, Keadilan, bukan tarap penemuan ketiganya, oleh karena itu ia masih jauh dari<span>  </span>sebuah ketenangan yang sesungguhnya, terkesan picik dan hanya berdasarkan kepuasan individual. </font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2">Seharusnya ini merupakan awal permulaan bagi kita untuk mempunyai kesatuan kesadaran beragama sebagai sarana untuk mencari Tuhan Yang Tunggal<span>  </span>di bawah tiga nama ini, dan bukan seperti kebanyakan orang yang hanya memiliki kebenaran, keadilan dan kedamaian. Masing-masing memiliki kecenderungan yang memperbolehkan kita untuk meningkatkan jalan kita. Jadi sebagai tambahan, Kedamaian yang sebenarnya, dalam dunia ini akan dapat mendampingi Keadilan yang berlandaskan pengetahuan yang mendalam tentang Kebenaran dan monotheism yang sebenarnya.</font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"><span>                </span>Oleh karena itu ada perbedaan yang dalam antara agama-agama<span>  </span><em>an-sich</em> dan ideologi atau pemahaman mereka terhadapnya. Seseorang bisa saja melakukan sebuah ideologi dengan ide apa saja, tapi seseorang selalu terbentur<span>  </span>karena terbelenggu<span>  </span>oleh sebuah sistem tertutup (final)<span>  </span>yang selalu membatasi<span>  </span>kebenaran sebagai sebuah hasil kerja seseorang yang cukup melelahkan. Ajaran keislaman, seperti halnya agama-agama lain, menganjurkan kepada kita<span>   </span>untuk terlebih dahulu menerima bahwa <em>kebenaran tidak memiliki kita, kitalah yang memiliki kebenaran itu</em>. Agama<span>  </span>mempersiapkan kita untuk pengetahuan yang diperoleh lewat kontemplasi terhadap <em>Realitas Ultim.</em><span>  </span>Secara khusus Tuhan tidak berkewajiban untuk mengabulkannya,<span>  </span>sebab Dia sendiri terlebih dahulu<span>  </span>mengajak kita untuk pergi menemuiNya sebagai zat yang mengabulkan permohonan. </font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"><span>                </span>Seorang beragama tidak pernah melakukan<span>  </span>sesuatu berbuatan terlepas dengan kehidupan spritual. Hanya saja nilai spritual dari kebenaran itu hilang begitu saja karena ia terbatas oleh pemikiran manusia yang sempit. Sudah barang tentu nilai seperti demikian dapat diperjual belikan dengan kebutuhan-kebutuhan praktis. Tidak mengherankan bial di era sekarang,<span>   </span>ideologi sebuah agama dalam sebuah sistem politik menimbulkan sesuatu yang sangat bernilai,<span>  </span>mengalihkan kekuatan spritual untuk sebuah transpormasi kekerasan yang besifat anarkhis<span>  </span>yang<span>  </span>muncul lewat tangan-tangan para<span>  </span>penguasa.<span>  </span>Orang dengan mudah melakukan perbuatan bohong dengan mengatasnamakan<span>  </span>“kebenaran”, membunuh atas nama keadilan, menjustifikasi kepalsuan dan pembunuhan sesuai konsep-konsep dan bahasa sebuah ideologi dari seorang penganut partai. Akan tetapi seseorang tak bisa membohongi Tuhan, sebagai <em>Realitas Ultim</em>, Kebenaran, Tuhan yang kita menemuiNya<span>  </span>atau yang kepadaNya kita harus meminta,<span>  </span>Tuhan yang<span>  </span>sempurna, yang tidak berat sebelah, bukan tuhan yang partisan,<span>  </span>sebab Dia adalah Tuhan yang mempersatukan tiap sesuatu.</font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"><span>                </span>Ajaran yang berbeda-beda dari berbagai agama, masing-masing<span>  </span>mengajarkan <span> </span>pengetahuan tentang Tuhan Yang Esa.<span>  </span>Dalam hal tertentu, semua ajaran yang disampaikan Tuhan yang Maha Berkuasa dan berkehendak itu, dapat<span>  </span>kelihatan bertentangan. Memang demikianlah Tuhan menciptakannya. Jika hal itu tidak terjadi, maka tidak akan ada pula yang disebut masyarakat agama. Tapi Tuhan, dalam kemurahan hatiaNya, mengisi perbedaaan ketetapan yang bersifat manusiawi itu dengan perbedaan bentuk wahyu pula.</font><a name="_ftnref25" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn25" title="_ftnref25"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[25]</span></span></span></span></a><font size="2"><span>  </span>Pengetahuan<span>  </span>tentang <em>pakta primordial</em>, sebagai dasar keesaan Tuhan, dasar kesatuan<span>  </span>manusia dan<span>  </span>agama, memunculkan berbagai cara yang ditempuh (metodologi) bukan hasil (produk). Hal demikian<span>  </span>sebagai bentuk pendahuluan untuk melakukan dialog antar seluruh komunitas umat beragama. Kaum Muslimin<span>  </span>juga diajak untuk<span>  </span>membuktikan kebenarn itu dan <span> </span>justru bukan memperjual belikannya. “Katakanlah” Kami telah beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu, Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu,<span>  </span>dan kami hanya kepadaNya berserah diri”.</font><a name="_ftnref26" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn26" title="_ftnref26"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[26]</span></span></span></span></a><font size="2"><span>  </span>Dalam ungkapa yang lain,<span>  </span>dialog adalah sesuatu hal yang tidak mungkin dilaksanakan jika<span>  </span>seseorang tidak punya perhatian penuh terhadap <em>pakta primordial</em> sebagai pusat manusia<span>  </span>dalam Ketuhanan. Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku ‘adil<span>  </span>di antara kamu. Allahlah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran<span>  </span>antara kami dan kamu. Allah mengumpulkan antar kita dan<span>  </span>kepadaNyalah kembali kita.</font><a name="_ftnref27" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn27" title="_ftnref27"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[27]</span></span></span></span></a><font size="2"> </font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"><span>                </span>Ke dalam dialog inilah semua hal akan bisa tercairkan, sebab ia ditandai dengan <em>segel dualitas</em>.</font><a name="_ftnref28" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftn28" title="_ftnref28"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">[28]</span></span></span></span></a><font size="2"> Dialog lebih suka kepada hal-hal yang disepakati bersama oleh intra religius, buka kepada hal-hal yang bertentangan. Jadi sebuah kebenaran bukanlah sebuah keputusan agama Yahudi, Kristen atau Islam tapi merupakan hasil bersama dari semua orang Yahudi, orang-orang Kristen dan Islam. Atau lebih tepatnya bahwa kelompok yang satu dan lainnya merupakan juru bicara Tuhan, Tuhan yang penuh cinta dan Maha Pemurah, pembicaraan yang penuh gema<span>  </span>yang kita telah<span>  </span>dengungkan kepada semua orang, yang luput dari lipatan waktu, di dalam kekekalan yang bersifat metafisik dari <em>pakta primodial</em>.<span>    </span>Perbedaan-perbedaan dalam pemahaman membuktikan di dalamnya penerimaan rahasia ketuhanan yang tidak bisa dipecahkan tanpa wahyu. Ia juga ibarat sebuah kelahiran kembali validitas berbagai formulasi keagamaan orthodoks dan aturan-aturan lain yang di dalamnya kita hidup.</font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"><span>                </span>Doktrin ketunggalan Tuhan sebagai dasar praktek ritual-ritual agama-agama membangkitkan gairah rahasia Tuhan, transendensiNya yang secara bersamaan<span>  </span>dapat menghadirkan dirinya sendiri secara immanen dan lebih nyata tanpa<span>   </span>harus diberi bentuk dan rupa lain. Jalan keberagamaan membuka sedikit demi sedikit tipu daya penghalang atau kesulitan<span>  </span>penderitaan yang <span> </span>membelenggu kita, atau yang menjadikan kita siap untuk memasuki wilayah spritual. Tuhan maha mengetahui keheranan dan bebingungan kita atau kita menemukan bahwa Tuhan<span>  </span>sangat agung<span>  </span>sehingga kita bisa menarik perbandingan denganNya, sangat agung sehingga kita hanya bisa menghampirinya<span>  </span>dengan segudang kebajikan, sangat agung sehingga kita lenyap dari pandangan Tuhan yang pemurah untuk memaafkan dosa-dosa kita. Juga sikap yang kita dirikan ketika menjalankan ibadah-ibadah<span>  </span>dengan gabungan antara<span>  </span><em>penuh harap</em> dan <em>rasa takut</em> yang merupakan ciri khas orang yang bertakwa, yang selalu dalam penantian kasih dan berkah Tuhan yang merupakan satu-satunya sarana untuk transformasi diri.</font></span></p>
<h4><span style="font-size:10pt;font-family:'Book Antiqua';">Penutup</span></h4>
<p><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2">Di bagian akhir dari tulisan ini disampaikan bahwa monoteisme menuntut adanya sebuah dialog agama. Kendatipun masing-masing agama mengklaim bahwa ia menganut monoteisme, tetapi dalam kenyataannya masing-masing juga saling menuduh bahwa yang lain sudah keluar dari jalur monoteisme disebabakan adanya perbedaan konsep. Konsep masing-masing agama seharusnya juga dijelaskan terhadap pemeluk agama lain sehingga bisa saling memahami. </font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2">Di samping yang demikian, nilai-nilai spritual sebuah agama sangat penting untuk ditonjolkan, karena lewat yang demikianlah <em>Realitas Ultim </em>itu bisa ditemukan. Jika tidak, maka klaim-klaim kebenaran masing-masing agama hanyalah kebenaran semu, kebenaran sepihak bukan kebenaran universal. </font></span><strong><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"> </font></span></strong><strong><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"> </font></span></strong><strong><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2">BIBLIOGRAFI</font></span></strong><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"> </font></span><em><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2">Al-Qur’an al-Karim. </font></span></em><em><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"> </font></span></em><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2">Ayoub,Mahmod Mustafa. 2000.<span>  </span><em>Mengurangi Konflik Muslim-Kristen Dalam Perspektif Islam </em>Ter. Ali Noer Zaman, Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru. </font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"> </font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2">Azhari, Kautsar Noer. 1998. “Tuhan Yang Diciptakan dan Tuhan yang Sebenarnya”<span>  </span>dalam <em>Jurnal Pemikiran Islam Paramadina</em>, volume I, Nomer 1, Juli-Desember.</font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"> </font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"><span> </span>Fulcher<span>  </span>Chartres. 1969. <em>A History of Expedition to Yerussalem 1095-1127</em> terj. Frances Rita Ryan, ed. Harold S Fink. Knoxville: The University of Tennesse Press.</font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"> </font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2">Goddard, Hugh. 1995.<em>Christians&amp;Muslim: From Double Standards to Mutual Understanding, </em>Inggris: Nottingham University.</font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"> </font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2">Guiderdoni, Abd al Haqq Isma’il. 1995. “La quete de l’identite supreme en Islam”,<span>  </span>makalah, Paris: Institutes de Hautes Etudes Islamiques, edisi September. </font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"> </font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-1995. “Monotheisme et dialogue Interreligieuse”, makalah, Paris: Institutes de Hautes Etudes Islamiques.</font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"> </font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2">Rahma, Jalaluddin. 1998. “Tuhan Yang Disaksikan Bukan Tuhan yang Didefinisikan”<span>  </span>dalam <em>Jurnal Pemikiran Islam Paramadina</em>, volume I, Nomer 1, Juli-Desember.</font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"> </font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2">Bayrakli, Bayraktar. t.t “The Concep of Justice (‘Adl) in<span>  </span>The Philosophy of Al-Farabi”<span>  </span>dalam <em>Hamdard Islamicus</em>, vol. XV. No. 3, Karachi: Hamdard Foundation.</font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2"> </font></span><span style="font-family:'Book Antiqua';"><font size="2">Faruqi, Isma’il Raji al. 1986. <em>The Cultural Atlas of Islam</em>, New York: MacMillan Publishing Company.</font></span><br />
<font size="2"><br />
<hr SIZE="1" width="33%" align="left" /></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref1" title="_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[1]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Masih ada beberapa hal sebagai penyebab terjadinya perselisihan di dalam kalangan umat beragama seperti politik dan aspek sosial budaya lainnya.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn2" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref2" title="_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[2]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Bila yang dimasud di sini<span>  </span>pembuktian di alam maya, maka pembuktian di sini bukan dalam pengertian positivistik, akan tetapi pembuktian logik.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn3" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref3" title="_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[3]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Waktu dan tempat di sini bukan dalam pengertian relati atau masa<span>  </span>yang sekarang kira ada di dalamnya, akan tetapi waktu dan tempat dalam pengertian absolut</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn4" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref4" title="_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[4]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Al-Qur’an Surat 7:172</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn5" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref5" title="_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[5]</span></span></span></span></a><font size="2"><font face="Times New Roman"> Al-Qur’an Surat</font></font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn6" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref6" title="_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[6]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Al-Qur’an 20: 98.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn7" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref7" title="_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[7]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Untuk diskusi lebih lanjut terhadap subjek ini antara lain dapat dibaca Kautsar Azhari Noer: “Tuhan Yang Diciptakan dan Tuhan yang Sebenarnya” dan tulisan Jalaluddin Rahmat: “Tuhan Yang Disaksikan Bukan Tuhan yang Didefinisikan” . Kedua artikel ini ditulis dalam Jurnal Pemikiran Islam <em>Paramadina</em>, volume I, Nomer 1, Juli-Desember 1998, halaman 129-148.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn8" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref8" title="_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[8]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Abd al Haqq Isma’il Guiderdoni. “La quete de l’identite supreme en Islam”,<span>  </span>makalah (Paris: Institutes de Hautes Etudes Islamiques, edisi September, 1995),<span>  </span>hal. 48 </font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn9" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref9" title="_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[9]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Al-Qur’an: 16: 51-52.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn10" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref10" title="_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[10]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Abd al Haqq Isma’il Guiderdoni. Monotheisme et dialogue Interreligieuse, makalah (Paris: Institutes de Hautes Etudes Islamiques, 1995), hal. 3</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn11" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref11" title="_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[11]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Ibid.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn12" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref12" title="_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[12]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Ibid., hal. 4</font></p>
<p style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn13" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref13" title="_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[13]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman">HughGoddard. <em>Christians&amp;Muslim: From Double Standards to Mutual Understanding </em>(Inggris: Nottingham University, 1995), hal. 12.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn14" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref14" title="_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[14]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Kata sakit di sini diidentikkan dengan pemikiran positivistik yang hanya mengakui kebenaran berdasarkan fakta empiris semata.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn15" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref15" title="_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[15]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Al-Qur’an 2: 147.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn16" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref16" title="_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[16]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Al-Qur’an, Surat al-Ikhlas 1-4</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn17" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref17" title="_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[17]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Al-Qur’an 42: 11.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn18" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref18" title="_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[18]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Al-Qur’an 58: 7.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn19" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref19" title="_ftn19"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[19]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Abd al Haqq Ismail Guiderdoni. “Monotheisme…..”,<span>  </span>hal. 13.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn20" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref20" title="_ftn20"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[20]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Lihat Hadis riwayat Bukhori, Muslim, Turmuzi dan Ibn Majah.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn21" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref21" title="_ftn21"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[21]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Al-Qur’an 3: 28</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn22" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref22" title="_ftn22"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[22]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Guiderdoni. “Monotheisme…..hal. 14.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn23" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref23" title="_ftn23"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[23]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Salah satu contoh dari kasus ini adalah perang Salib yang terjadi pada tahun 1095 atas perintah paus Urban II Menurut seorang periwayat perang salib, Fulcher dari Chartres, Paus mengemukakan maksud-maksudnya atas nama Kristus untuk “mempercepat pembasmian ras terhina dari daerah-derah dan sekaligus membantu penduduk Kristen”. Untuk memperteguh pendapatnya Paus menyatakan bahwa Kristus memerintahkan hal itu. ( Untuk lebih jauhn dapat dibaca Fulcher of Chartres. <em>A History of Expedition to Yerussalem 1095-1127</em> terj. Frances Rita Ryan, ed. Harold S Fink. (Knoxville: The University of Tennesse Press, 1969).<span>  </span>Pau sendiri <span> </span>mau mengampuni bagi siapa yang erlibat dalam perang cuci ini.<span>  </span>Mahmod Mustafa Ayoub. <em>Mengurangi Konflik Muslim-Kristen Dalam Perspektif Islam </em>Ter. Ali Noer Zaman, (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2001), hal. 247.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn24" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref24" title="_ftn24"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[24]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Bayraktar Bayrakli: The Concep of Justice (‘Adl) in<span>  </span>The Philosophy of Al-Farabi”<span>  </span>dalam <em>Hamdard Islamicus</em>, vol. XV. No. 3</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn25" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref25" title="_ftn25"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[25]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Isma’il raji al-Faruqi. <em>The Cultural Atlas of Islam</em> (New York: MacMillan Publishing Company, 1986),<span>  </span>hal. 235.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn26" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref26" title="_ftn26"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[26]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Al-Qur’an 29: 40.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn27" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref27" title="_ftn27"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[27]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Al-Qur’an 42: 15.</font></p>
<p style="margin:0;" class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn28" href="http://sangkot.wordpress.com/wp-admin/#_ftnref28" title="_ftn28"><span class="MsoFootnoteReference"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;font-family:'Times New Roman';">[28]</span></span></span></span></a><font size="2" face="Times New Roman"> Guiderdoni: “Monotheis…..” hal, 7.</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sangkot.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sangkot.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sangkot.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sangkot.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sangkot.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sangkot.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sangkot.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sangkot.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sangkot.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sangkot.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sangkot.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sangkot.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sangkot.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sangkot.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sangkot.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sangkot.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangkot.wordpress.com&amp;blog=1734808&amp;post=10&amp;subd=sangkot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangkot.wordpress.com/2007/11/01/monoteisme-dan-dialog-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1afb08087b8de1abf9227a701157085a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sangkot</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sangkot.files.wordpress.com/2007/11/sangkot-1.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sangkot-1.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Inklusivisme Agama</title>
		<link>http://sangkot.wordpress.com/2007/09/17/inklusivisme-agama/</link>
		<comments>http://sangkot.wordpress.com/2007/09/17/inklusivisme-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Sep 2007 09:01:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangkot</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sangkot.wordpress.com/2007/09/17/inklusivisme-agama/</guid>
		<description><![CDATA[Agama bagi saya bersifat inklusif, karena agama pada dasarnya untuk semua umat&#8230;<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangkot.wordpress.com&amp;blog=1734808&amp;post=3&amp;subd=sangkot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Agama bagi saya bersifat inklusif, karena agama pada dasarnya untuk semua umat&#8230;</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sangkot.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sangkot.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sangkot.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sangkot.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sangkot.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sangkot.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sangkot.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sangkot.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sangkot.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sangkot.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sangkot.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sangkot.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sangkot.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sangkot.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sangkot.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sangkot.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangkot.wordpress.com&amp;blog=1734808&amp;post=3&amp;subd=sangkot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangkot.wordpress.com/2007/09/17/inklusivisme-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1afb08087b8de1abf9227a701157085a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sangkot</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Renungan</title>
		<link>http://sangkot.wordpress.com/2007/09/17/hello-world/</link>
		<comments>http://sangkot.wordpress.com/2007/09/17/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Sep 2007 08:46:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sangkot</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Selamat melaksanakan ibadah puasa. Puasa membawa kita ketingkat ketakwaan<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangkot.wordpress.com&amp;blog=1734808&amp;post=1&amp;subd=sangkot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selamat melaksanakan ibadah puasa. Puasa membawa kita ketingkat ketakwaan</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sangkot.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sangkot.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sangkot.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sangkot.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sangkot.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sangkot.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sangkot.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sangkot.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sangkot.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sangkot.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sangkot.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sangkot.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sangkot.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sangkot.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sangkot.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sangkot.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sangkot.wordpress.com&amp;blog=1734808&amp;post=1&amp;subd=sangkot&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sangkot.wordpress.com/2007/09/17/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1afb08087b8de1abf9227a701157085a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sangkot</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
